Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel Berita Haji & Umrah

Wajib Tahu! Asal Muasal Ibadah Haji

Hajj

Menjalankan ibadah Haji, tentu menjadi keinginan semua umat muslim di dunia. Namun, sebelum melaksanakan ibadah Haji, tahukah Anda darimana asal muasal Ibadah Haji tersebut? Berikut penjelasannya

Asal muasal sejarah ibadah Haji di Baitullah sudah ada sejak zaman Nabi Adam ‘Alaihissalam. Nabi Adam AS adalah manusia pertama yang dikirim Allah Subhanahu wa Ta’ala (SWT) ke muka bumi.

Hal ini diterangkan dalam firman Allah SWT:

وَاِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلٰٓٮِٕكَةِ اِنِّىْ جَاعِلٌ فِى الْاَرْضِ خَلِيْفَةًؕ قَالُوْٓا اَتَجْعَلُ فِيْهَا مَنْ يُّفْسِدُ فِيْهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَآءَۚ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَـكَ‌ؕ قَالَ اِنِّىْٓ اَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُوْنَ

“Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Aku hendak menjadikan khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sungguh, Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.” (QS Al-Baqarah [2]:30)

Dialog antara Allah SWT dengan Malaikat- malaikat Nya itulah yang menjelaskan secara gamblang tentang perencanaan pengiriman pertama manusia ke muka bumi.

Ka’bah pertama kali dibangun oleh Nabi Adam AS setelah mendapatkan perintah dari Allah SWT. Bangunan berbentuk mirip persegi empat (karena jika diukur setiap sisinya tak sama panjang) tersebut diberi nama Baitullah.

Baitullah didirikan di Mekkah karena letaknya selaras dengan kedudukan Baitul Makmur di alam Malaikat.

Sejak saat itu juga, Nabi Adam diperintahkan untuk melakukan thawaf (berjalan mengelilingi Ka’bah). Lalu ritual ini dilanjutkan oleh manusia dan jin bahkan malaikat yang bertugas di bumi.

Setelah Nabi Adam wafat, Ka’bah mulai rusak dan rapuh. Lalu Allah memerintahkan kepada putra Nabi Adam untuk membangun kembali Ka’bah. Sayangnya, banjir besar yang terjadi pada masa Nabi Nuh AS ternyata ikut menghancurkan Ka’bah.

Akhirnya Ka’bah dibangun kembali pada masa Nabi Ibrahim. Dibantu oleh putra semata wayangnya, Nabi Ismail. Dibangun dari komposisi tanah liat, berasal dari tujuh bukit berbeda di Kota Mekkah. Setelah selesai dibangun, beliau dan keluarganya diperintahkan untuk mengerjakan thawaf.

Allah SWT menerangkan masalah ini dalam firman-Nya:

وَاِذْ بَوَّاْنَا لِاِبْرٰهِيْمَ مَكَانَ الْبَيْتِ اَنْ لَّا تُشْرِكْ بِىْ شَيْـًٔـا وَّطَهِّرْ بَيْتِىَ لِلطَّآٮِٕفِيْنَ وَالْقَآٮِٕمِيْنَ وَالرُّكَّعِ السُّجُوْدِ

Dan (ingatlah), ketika Kami tempatkan Ibrahim di tempat Baitullah (dengan mengatakan), “Janganlah engkau mempersekutukan Aku dengan apa pun dan sucikanlah rumah-Ku bagi orang-orang yang tawaf, dan orang yang beribadah dan orang yang rukuk dan sujud.” (QS Al-Hajj [22] : 26)

Allah SWT memerintahkan Nabi Ibrahim untuk menyeru seluruh umat manusia supaya melakukan thawaf di Ka’bah. Pada masa ini jugalah dimulai ritual haji yang akhirnya kita laksanakan sampai sekarang.

Allah SWT menggambarkan hal itu dalam kalam-Nya yang mulia:

وَاِذْ جَعَلْنَا الْبَيْتَ مَثَابَةً لِّلنَّاسِ وَاَمْنًاؕ وَاتَّخِذُوْا مِنْ مَّقَامِ اِبْرٰهٖمَ مُصَلًّى‌ؕ وَعَهِدْنَآ اِلٰٓى اِبْرٰهٖمَ وَاِسْمٰعِيْلَ اَنْ طَهِّرَا بَيْتِىَ لِلطَّآٮِٕفِيْنَ وَالْعٰكِفِيْنَ وَالرُّکَّعِ السُّجُوْدِ

Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah (Ka’bah) tempat berkumpul dan tempat yang aman bagi manusia. Dan jadikanlah maqam Ibrahim itu tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail, “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang tawaf, orang yang iktikaf, orang yang rukuk dan orang yang sujud!” (Qs Al-Baqarah [2] : 125)

Dalam ibadah haji ada tata cara lempar jumroh di Mina. Ritual ini diambil dari sejarah saat Nabi Ibrahim diperintahkan untuk menyembelih anaknya sendiri, Nabi Ismail.

Di satu sisi, Nabi Ibrahim harus menjalani perintah Allah. Namun di sisi lain, beliau merasa sedih karena artinya beliau harus kehilangan anak yang sangat dicintainya. Kemudian, Nabi Ibrahim menyampaikan perintah Allah itu kepada Nabi Ismail dan Siti Hajar. Dengan lapang hati, Ismail dengan rela dikobarkan jika memang itu perintah dari Allah Swt.

Sepanjang perjalanannya menuju tempat penyembelihan, setan terus menerus membisikan Nabi Ibrahim agar imannya goyah dan membatalkan rencananya untuk mengorbankan Nabi Ismail.

Bukannya menjadi goyah, dengan sigapnya, Nabi Ibrahim melempar batu ke arah setan yang menggoda proses tersebut. Kesabaran Nabi Ibrahim pun tidak sia-sia. Allah SWT mengganti Ismail dengan seekor kibas (domba) tepat sebelum Nabi Ibrahim menyentuh leher Ismail. Ini yang awal mula Hari Raya Idul Adha.

Selain itu ada Ibadah Sa’i atau berlari kecil antara bukit Shafa dan Marwah. Ibadah ini melambangkan pengorbanan dan dedikasi Ibunda Hajar ketika ditinggalkan Nabi Ibrahim di tengah-tengah lembah tandus kering di hamparan pasir yang panas.

Saat itu Siti Hajar ingin mencarikan air untuk Ismail yang masih bayi. Beliau berlari ke bukit Shafa untuk mencari air. Karena tidak menemukannya, beliau kembali lagi ke bukit Marwah, dan beliau melakukan itu sebanyak 7 kali, hingga akhirnya munculah sebuah sumber mata air yang kita kenal dengan nama air Zamzam.

Sehingga sekarang kita melakukan jumroh, thawaf, dan sa’i bersandar pada kisah sejarah, yang diperintahkan oleh Allah untuk kita ulangi lagi.

Setelah Nabi Ismail beranjak dewasa, Allah memerintahkan Nabi Ibrahim dan Ismail untuk membangun Ka’bah. Ka’bah dibangun hingga ketinggian 7 hasta.

Malaikat Jibril pun turut andil dengan menunjukkan posisi peletakan batu Hajar Aswad.

Setelah Ka’bah sudah terbangun, Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail melakukan ibadah Haji. Di tanggal 8 Dzulhijah, Malaikat Jibril kembali turun ke bumi dan menyampaikan pesan untuk menyebarkan air zam-zam kebeberapa tempat di sekitar Ka’bah seperti Mina dan Arafah. Hari ini disebut dengan Hari Tarwiyyah atau hari pendistribusian air.

Setelah melakukan haji dan mendistribusikan air am-zam, Nabi Ibrahim berdoa kepada Allah SWT. Sebagaimana doa yang tercantum dalam surat Al Baqarah ayat 126

“Dan (ingatlah), ketika Ibrahim berdoa: “Ya Tuhanku, jadikanlah negeri ini negeri yang aman, dan berikanlah rezki kepada penduduknya dari (berbagai macam) buah-buahan, (yaitu penduduknya) yang beriman di antara mereka kepada Allah dan hari kemudian.” Allah berfirman: “Dan siapa yang kafir maka Aku beri kesenangan sementara, kemudian Aku memaksanya menjalani siksa neraka dan itulah seburuk-buruk tempat kembali“. ( Q.S Al Baqarah : 126 )

Pada masa Nabi Muhammad SAW, Ka’bah sempat menjadi tempat pemujaan berhala oleh kaum Quraisy. Di sana selalu tercium aroma kemenyan dan banyak berhala-berhala terpajang di setiap sudut. Ada kurang lebih 300 berhala di dalam dan luar Ka’bah. Berhala yang terbuat dari beragam material. Ada yang terbuat dari batu atau terbuat dari tulang atau dari kayu.

Dengan adanya fenomena kemusyrikan itulah perlu ada usaha meluruskan dengan cara membersihkan berhala di sekitar Kabah. Agar tauhid kembali tegak.

Akhirnya Nabi Muhammad SAW mendapatkan mimpi untuk melaksanakan ibadah Umroh pada tahun 6 Hijriyah. Lantas diajak lah para sahabat untuk merealisasikan mimpi itu. Ada sekitar 1.500 orang yang berangkat ke Mekkah menemani Nabi.

Hal ini didengar oleh kaum musyrik,  lalu mereka menghadang Nabi Muhammad SAW beserta rombongan sekitar 20 km barat laut Makkah. Tertahan di Hudaibiyah.

Inilah yang menyebabkan Nabi tidak bisa melaksanakan ibadah Umroh saat itu.

Nabi Muhammad SAW menyepakati perjanjian Hudaibiyah yang akhirnya membuat beliau dapat melaksanakan ibadah haji pada tahun 9 Hijriyah.

Di sana terdapat tanda-tanda yang jelas, (di antaranya) maqam Ibrahim. Barangsiapa memasukinya (Baitullah) amanlah dia. Dan (di antara) kewajiban manusia terhadap Allah adalah melaksanakan ibadah haji ke Baitullah, yaitu bagi orang-orang yang mampu mengadakan perjalanan ke sana. Barangsiapa mengingkari (kewajiban) haji, maka ketahuilah bahwa Allah Mahakaya (tidak memerlukan sesuatu) dari seluruh alam”. (QS Ali-Imraan [3]:97)

 Ibadah Haji sebagai rukun Islam yang kelima mulai diwajibkan pada tahun ini, tahun 630 M.

Nah begitulah kisah singkat mengenai asal muasal ibadah Haji. Semoga kita semua, diberikan kesempatan untuk menunaikan Ibadah Haji. Aamiin.