Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel Informasi Penting

Ternyata Seperti Ini Asal Usul Gelar Haji

Utama

INFOHAJI.co.id – Sahabat InfoHaji, tentu kamu sudah sering mendengar bahwa ketika seorang yang baru menunaikan haji, maka setibanya ia ditanah air, ia tidak lagi dipangging namanya. Namun dipanggil gelar haji.

Meskipun ia seorang sarjana, magister, doktor, maka gelar akademiknya justru tidak disebut. Gelar “haji” ini memang tergolong cukup unik. Sebab hanya di Indonesia saja kita menemukan fakta pemberian gelar semacam itu.

Lalu dari manakah asal penyematan gelar haji tersebut?

Nah, kali ini tim InfoHaji mendapatkan sebuah infomasi. Bahwa pada zaman dahulu, ketika situasi kota Mekkah mencekam akibat pertikaian antar perebut kekuasaan, sebutan ‘haji’ pernah disematkan kepada mereka yang selamat kembali pulang. Hal itu terjadi sekitar tahun 654 H/ 1276.

Saat itu kota Mekkah terputus dengan dunia luar, ditambah kekacauan yang meluas hingga tidak ada tertib sosial, sehingga para jemaah haji berangkat ke Masjidil haram dan Arafah, Mina Muzdalifah seperti berangkat ke medan perang. Dalam keadaan demikian, sekembalinya ke perkampungan suku masing-masing mereka dielu-elukan dengan sebutan “Ya Hajj, Ya Hajj”. Maka berawal dari itu, setiap orang yang pulang haji diberi gelar “Haji”.

Kejadian tersebut berlangsung tidak sampai bertahun-tahun karena ketika situasi normal kembali, di kalangan masyarakat Arab hingga hari ini tidak pernah lagi ada sebutan haji bagi yang telah melaksanakan ibadah haji. Haji, tak ubahnya amalan rukun Islam lain seperti shalat, zakat dan puasa, tidak meninggalkan sebutan atau gelar.

Hal ini berbeda 180 derajat dengan masyarakat di Indonesia yang justru menggunakan sebutan haji atau biasa disingkat ‘H’ atau “Hj’ pada KTP, SIM, Kartu Nama bahkan dimanfaatkan untuk kampanye pemilihan umum atau kepala daerah.

Jika di tempat asalnya orang yang berhaji tidak lagi menggunakan sebutan haji, lalu sejak kapan orang Indonesia menggunakan sematan ‘haji’ di sebelah namanya? Mengapa ketika di sumbernya tidak digunakan justru di sini semakin dibangga-banggakan?

Berdasarkan penelusuran, pernah ditemukan perintah penggunaan ‘gelar’ haji bagi para pelaksana haji nusantara. Ketentuan ini diatur dalam Peraturan Pemerintahan Kolonial Belanda dalam Staatsblad tahun 1903 dan saat jemaah haji makin meningkat sejak tahun 1911, pemerintah Hindia Belanda mengkarantina mereka hendak pergi haji maupun setelah pulang haji di Pulau Cipir dan Pulau Onrust, Kepulauan Seribu, Jakarta. Pada saat di karantina kedatangan, dengan alasan kamuflase “untuk menjaga kesehatan”, kadang saat ditemukan adanya jemaah haji yang dinilai berbahaya oleh pemerintah Hindia Belanda, diberi suntik mati diam-diam. Maka tak jarang banyak yang dimatikan di karantina pulau Onrust dan Cipir.

Sementara itu, dalam laman NU, arkeolog Islam Nusantara, Agus Sunyoto, menyatakan hal tersebut mulai muncul sejak tahun 1916.

“Kenapa dulu tidak ada Haji Diponegoro, Kiai Haji Mojo, padahal mereka sudah haji? Dulu kiai-kiai enggak ada gelar haji, wong itu ibadah kok. Sejarahnya (gelar “haji”, red) dimulai dari perlawanan umat Islam terhadap kolonial. Setiap ada pemberontakan selalu dipelopori guru thariqah, haji, ulama dari Pesantren, sudah, tiga itu yang jadi ‘biang kerok’ pemberontakan kompeni, sampai membuat kompeni kewalahan,” beber Agus Sunyoto.

Penulis buku “Atlas Wali Songo” itu menambahkan, para kolonialis sampai kebingungan karena setiap ada warga pribumi pulang dari tanah suci Mekkah selalu terjadi pemberontakan. “Tidak ada pemberontakan yang tidak melibatkan haji, terutama kiai haji dari pesantren-pesantren itu,” tegasnya.

Untuk memudahkan pengawasan, lanjut Wakil Ketua Pengurus Pusat Lembaga Seni Budaya Muslimin Indonesia (Lesbumi) itu, pada tahun 1916 penjajah mengeluarkan keputusan Ordonansi Haji, yaitu setiap orang yang pulang dari haji wajib menggunakan gelar “haji”.

“Untuk apa (ordonansi haji, red)? Supaya gampang mengawasi, intelijen, sejak 1916 itulah setiap orang Indonesia yang pulang dari luar negeri diberi gelar haji,” ujar Agus.

Sementara itu, kalau kamu mendengar panggilan “Ya Hajj” yang ada di Timur Tengah, itu hanyalah ucapan penghormatan saja, karena pemerintahan di sana tidak mengeluarkan sertifikat haji.