Home » Arsip » Tata Cara Ibadah Haji
  • iklan-perlengkapan-haji-square-1.jpg

Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram

Artikel Populer

Dapatkan Produknya disini

Artikel

Tata Cara Ibadah Haji

tata cara ibadah haji

TATA CARA IBADAH HAJI SESUAI TUNTUNAN NABI MUHAMMAD S.A.W

Bertolak ke Tanah Suci untuk memenuhi panggilan Allah SWT dan menjalankan rukun islam yang kelima, yaitu ibadah haji, merupakan keinginan dan dambaan setiap umat muslim. Maka dari itu, bagi Anda yang diberi kemudahan oleh Allah SWT untuk bisa menjalankan ibadah haji atau umroh hendaklah menggunakan kesempatan emas tersebut dengan sebaik-baiknya.

Mengetahui dan memahami tata cara ibadah haji merupakan salah satu kunci penting, supaya ibadah haji yang akan Anda laksanakan bisa berjalan dengan lurus dan benar, sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad SAW. Berikut kami ringkas, tata cara ibadah haji secara mudah dan praktis.

Ihram; niat untuk melaksanakan ibadah haji

Ihram dilaksanakan pada tanggal 8 Dzulhijah. Sebelum berihram, Anda dianjurkan untuk mandi terlebih dahulu, memakai wangi-wangian yang disemprotkan ke badan bukan pada kain atau pakaian ihram, kemudian pakailah pakaian ihram; bagi laki-laki, menggunakan 2 helai kain ihram yang tidak berjahit, satu kain digunakan untuk sarung, dan satu kain lainnya digunakan sebagai selendang. Tidak diperbolehkan memakai sandal yang menutupi mata kaki dan memakai penutup kepala yang langsung melekat di kepala, seperti sorban atau peci. Sedangkan bagi kaum perempuan dianjurkan untuk memakai baju muslimah yang longgar dan menutup aurat, dan tidak boleh mengenakan cadar atau sarung tangan.

Setelah memakai pakaian ihram, menghadaplah ke kiblat dan bacalah doa ihram:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ حَجًّا

Artinya:

“Kusambut penggilan-Mu ya Allah untuk melakukan haji”.

Mabit di Mina (Bermalam di Mina)

Pada tanggal 8 Dzulhijah, setelah terbih matahari berangkatlah ke Mina. Sesampainya disana, kerjakanlah sholat Zhuhur dan Ashar dengan diqoshor tanpa dijama’; sholat Zhuhur 2 raka’at pada waktunya dan sholat Ashar dua raka’at pada waktunya. Begitu juga dengan sholat Maghrib dan Isya’ diqoshor, tanpa dijama’. Kemudian bermalamlah disana, supaya bisa melaksanakan Sholat Shubuh disana sebagaimana sunnah Nabi Muhammad SAW.

Berdiam Diri di Padang Arafah (Wukuf)

Pada tanggal 9 Dzulhijah, usai menjalankan sholat subuh di Mina dan setelah terbit matahari, berangkatlah ke Arafah sambil membaca kalimat talbiyah:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ لَبَّيْكَ لَبَّيْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ لَبَّيْكَ إِنَّ الْحَمْدَ وَالنِّعْمَةَ لَكَ وَالْمُلْكَ لاَ شَرِيكَ لَكَ

Artinya:

Aku penuhi panggilan-Mu, ya Allah, aku penuhi panggilan-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu, aku penuhi panggilan-Mu. Sesungguhnya segala puji, nikmat dan kerajaan bagi-Mu. Tidak ada sekutu bagi-Mu.

Setibanya di Arafah, maka lakukanlah sholat Zhuhur dan Ashar dengan cara dijama’ taqdim dan diqoshor. Jika posisi Anda sudah jelas berada dalam batas Arafah, angkatlah kedua tangan dan berdoalah. Doa yang dipakai oleh Nabi Muhammad SAW:

لاَ إِلَـهَ إِلاَّ اللهُ وَحْدَهُ لاَ شَرِيْكَ لَهُ، لَهُ الْمُلْكُ وَلَهُ الْحَمْدُ، وَهُوَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ

Artinya:

“Tiada Tuhan yang berhak disembah selain Allah, Yang Maha Esa, Tiada sekutu bagiNya. BagiNya kerajaan dan pujian. Dialah Yang Mahakuasa atas segala sesuatu.”

Pergunakanlah waktu Anda selama di Arafah dengan baik, jangan sampai waktu Anda di Arafah habis dengan bicara dan berjalan. Perbanyaklah doa karena Allah SWT mendekat ke langit dunia di hari Arafah. Dan yang harus Anda ingat, Anda dilarang meninggalkan Arafah sebelum matahari terbenam.

Mabit di Muzdalifah (Bermalam di Muzdalifah)

Wakuf di Arafah berakhir saat matahari terbenam, dan pada saat itu Anda diharuskan untuk berangkat ke Muzdalifah dan bermalam disana sampai subuh, agar Anda bisa mengerjakan sholat subuh disana.  Sesampainya di Muzdalifah, kerjakanlah sholat Maghrib dan Isya’ dengan cara dijama’ ta’khir dan diqoshor. Yaitu, sholat Maghrib dikerjakan di waktu Isya’ sebanyak 3 raka’at dan sholat Isya 2 raka’at. Usai mengerjakan sholat, Anda diperbolehkan untuk beristirahat.

Melempar Jumrah Aqobah/Kubro

Pada tanggal 10 Dzulhijjah, hari Ied, Anda diperbolehkan untuk meninggalkan Muzdalifah sebelum terbit matahari dan berangkat menuju Mina sambil mengucap takbir dan talbiyah. Dan Anda diharuskan untuk mengambil batu, sebesar biji coklat atau biji kacang di mana saja, baik itu diperjalanan menuju Mina atau di Mina itu sendiri.

Setelah terbit matahari, lemparkanlah Jumrah Aqabah atau batu kecil yang Anda tadi ambil sebanyak 7 kali lemparan. Ketika melempar menghadap jumrah dan jadikan Makkah sebelah kirimu dan Mina sebelah kananmu. Dan ketika melempar batu tersebut, ucapkanlah “Allahu Akbar” pada setiap lemparan dan usahakan masuk ke dalam kolam. Apabila tidak masuk ke dalam kolam, maka ulangi.

Mencukur Rambut (Tahallul Pertama)

Setelah melaksanakan jumrah aqobah, Anda dianjurkan untuk melakukan tahallul awal (tahallul pertama) yaitu dengan cara mencukur sebagaian atau seluruh rambut, sekurang-kurangnya tiga helai rambut bagi perempuan.

Setelah melakukan tahallul awal, maka Anda diperbolehkan untuk mengerjakan beberapa hal yang tadinya dilarang saat ihram, seperti; melepas pakaian ihram dan menggunakan pakaian yang biasa, menggunakan parfum, menggunting kuku dan lain- lain, kecuali berhubungan suami istri.

Menyembelih Kambing

Hukum menyembelih kambing pada saat melaksanakan ibadah haji tidaklah wajib. Proses penyembelihannya itu sendiri, hanya bisa dilakukan pada tanggal 10 Dzulhijjah atau setelahnya, yaitu pada tanggal 11, 12, 13 Dzulhijjah (hari-hari tasyriq).

Tawaf Ifadhoh

Tawaf dilakukan dengan cara mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran, dan kemudian setelah itu dilanjutkan dengan melakukan sholat sunat sebanyak 2 rakaat di belakang makam Ibrahim. Setelah itu, pergilah ke tempat air zam-zam untuk minum sebanyak-banyaknya dan menyiram kepala dengan air zam-zam tersebut. Kemudian, kembali ke Hajar Aswad untuk menciumnya dan apabila kondisinya tidak memungkinkan Anda untuk menciumnya, bisa juga dilakukan dengan cara melambaikan tangan Anda pada garis lurus dengan Hajar Aswad.

Sa’i; Lari Kecil antara Bukit Shafa dan Marwah

Berikutnya adalah sa’i, dimana Anda diharuskan untuk berlari-lari kecil diantara bukit Shafa dan Marwah. Sa’i dimulai dari bukit Shofa dan diakhiri di bukit Marwah. Bacalah doa berikut ini ketika Anda mendaki ke Bukir Shofa:

إِنَّ الصَّفاَ وَالمَرْوَةَ مِنْ شَعَآئِرِ اللهِ

Artinya:

“Sesungguhnya Shafa dan Marwa adalah sebagian dari syi’ar-syi’ar Allah.” (HR. Ahmad, Muslim dan An Nasa’i)

Sesampainya di Bukit Shofa, menghadaplah ke kiblat dan bacalah “Allahu Akbar” dan “ Laa ilaaha illallah” sebanyak tiga kali.

Dari bukit Shofa ke bukit Marwah dihitung satu kali putaran, begitu juga dari bukit Marwah ke bukit Shofa dihitung satu kali putaran, jadi total dua kali putaran. Jadi putaran yang ke tujuh akan berakhir di bukit Marwah.

Bermalam Kembali di Mina

Setelah melakukan thawaf ifadhoh dan sa’i, Anda diharuskan untuk bemalam kembali di Mina. Seperti sebelumnya, saat Anda bermalam di Mina maka dianjurkan untuk mengqoshor sholat wajib; yaitu sholat Dzuhur dan Ashar, dan Maghrib dan Isya. Masing-masing dikerjakan sebanyak dua raka’at, kecuali sholat Maghrib, tetap sebanyak tiga raka’at.

Siang harinya, tepatnya pada tanggal 11 Dzulhijjah, Anda berangkat kembali untuk melempar jumrah di tiga tempat yang berbeda, yaitu; Jumrah Shughra, Wustho, dan Kubro. Masing-masing sebanyak tujuh kali lemparan.

Tawaf Wada’ (Tawaf Perpisahan)

Dan amalan yang terakhir dari ibadah haji adalah tawaf wada. Amalan ini wajib dilakukan oleh semua jamaah haji yang hendak meninggalkan kota Mekkah. Tata cara melakukan tawaf ini sama dengan tawaf biasa, hanya saja pada saat melakukan tawaf wada’ Anda diperbolehkan untuk memakai pakaian biasa.

Apabila Anda mengikuti petunjuk haji diatas, maka Anda telah menyelesaikan ibadah haji. Semoga petunjuk tentang tata cara ibadah haji ini, bisa memberikan sedikit gambaran dan bisa dijadikan panduan bagi Anda yang hendak bertolak ke Tanah Suci untuk melakukan ibadah haji.

Sekian penjelasan tentang tata cara ibadah haji. Semoga bermanfaat dan bisa dijadikan pedoman bagi Anda yang hendak berangkat ke Tanah Suci untuk menjalankan salah satu kewajiban dari Allah SWT, yaitu ibadah haji. Wallahu’alam bi shawab.