Home » Arsip » Tanda-Tanda Haji Mabrur
  • iklan-perlengkapan-haji-square-1.jpg

Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram

Artikel Populer

Dapatkan Produknya disini

Sajadah Beli
Kerudung Beli
Souvenir Beli
Artikel

Tanda-Tanda Haji Mabrur

tanda-tanda haji mabrur

Tanda-Tanda Haji Mabrur dan Kiat-Kiat untuk Mewujudkannya

Haji Mabrur adalah ibadah haji yang tidak dinodai dengan perbuatan dosa atau segala sesuatu yang diharamkan. Ibadah haji seseorang bisa dikatakan mabrur atau tidak hanya Allah SWT yang tahu. Sebagaimana halnya pahala, hanya Allah SWT lah yang mengetahui apakah amalan yang diperbuatnya mendapatkan pahala atau tidak. Akan tetapi, kita sebagai umat muslim harus tetap berusaha agar ibadah haji yang kita kerjakan bisa diterima oleh Allah SWT dan tergolong kedalam haji mabrur. Berikut ini adalah tanda-tanda haji mabrur dan kiat-kiat yang harus dilakukan untuk mewujudkannya:

Niat Ibadah Haji yang Dilakukan Hanya Karena Allah SWT Semata

Ketika hendak melaksanakan ibadah haji, hal pertama yang harus kita lakukan adalah niat. Niat yang dilakukan haruslah didasari dengan keihkhlasan dan semata-mata karena Allah SWT. Dalam setiap ibadah, niat adalah hal yang paling utama dan akan menentukan apakah ibadah atau amalan yang dilakukannya dapat diterima oleh Allah SWT. Niatlah yang menentukan arah dan tujuan dari ibadah yang kita lakukan. Berikut ini adalah dalil yang menjelaskan tentang pentingnya kedudukan niat dalam setiap ibadah yang kita lakukan:

وَمَآ أُمِرُوٓا۟ إِلَّا لِيَعْبُدُوا۟ ٱللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ ٱلدِّينَ

Artinya:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan mengikhlaskan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus”. (QS: Al-Bayyinah Ayat: 5).

Firman diatas menjelaskan bahwa Allah SWT menyuruh kita semua untuk berniat dalam setiap ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Rosulullah SAW juga menjelaskan tentang pentingnya sebuah niat dalam setiap amalan dan ibadah yang kita lakukan dalam hadist berikut ini:

Rosulullah SAW bersabda;

ٍعَنْ عُمَرَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهم عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّةِ وَلِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ فَهِجْرَتُهُ إِلَى اللَّهِ وَرَسُولِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ لدُنْيَا يُصِيبُهَا أَوِ امْرَأَةٍ يَتَزَوَّجُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ

Artinya:

“Dari Umar radhiyallahu ‘anhu, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Amal itu tergantung niatnya, dan seseorang hanya mendapatkan sesuai niatnya. Barang siapa yang hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan Rasul-Nya, dan barang siapa yang hijrahnya karena dunia atau karena wanita yang hendak dinikahinya, maka hijrahnya itu sesuai ke mana ia hijrah.” (HR. Bukhari, Muslim, dan empat imam Ahli Hadits).

Kedua dalil diatas adalah dasar yang menjelaskan betapa pentingnya niat dalam setiap amalan dan ibadah yang kita lakukan. Oleh sebab itu, mari kita semua meluruskan niat. Niatkan dalam hati bahwa amalan dan ibadah yang akan kita lakukan hanya semata-mata karena Allah SWT dengan tidak ada maksud lain. Begitu juga dalam melaksanakan ibadah haji, niatkan dalam hati bahwa ibadah haji yang akan dilakukan, hanya semata-mata atas dasar iman dan sebagai bentuk ketaqwaan seorang hamba kepada Sang Pencipta. Bukan karena ingin dipuji dan di hormati oleh orang-orang disekitar dan di panggil “Pak/Bu Haji”.

Biaya dan Nafkah yang Digunakan untuk Berhaji Berasal dari Harta yang Halal

Sebagaimana yang telah kita ketahui bahwa ibadah haji itu hukumnya wajib, terutama bagi mereka yang mampu. Salah satu hal yang menjadi indikator bahwa seseorang dikatakan “mampu” adalah mampu secara finansial. Akan tetapi harta yang digunakan untuk pergi haji haruslah dari harta yang halal. Allah SWT tidak akan menerima segala sesuatu yang bersalah dari perkara yang haram. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadits berikut ini:

عَنْ أَبِيْ هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ تَعَالَى عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ تَعَالَى طَيِّبٌ لاَ يَقْبَلُ إِلاَّ طَيِّبَاً

Artinya:

“Dari Abu Hurairah Radhiallahu ‘Anhu, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala itu baik, tidak menerima kecuali yang baik-baik.” (HR. Muslim).

Dalam hadist diatas dijelaskan bahwa Allah SWT tidak menerima segala sesuatu kecuali yang baik-baik. Niatan seseorang untuk pergi haji memang hal yang mulia dan baik. Akan tetapi apabila harta yang digunakan berasal dari perkara yang haram, maka Allah SWT tidak akan menerimanya. Dan dalam hadist lain juga dijelaskan bahwa harta yang digunakan untuk berhaji harus bersumber dari harta yang halal:

Rosulullah SAW bersabda:

” Jika seseorang pergi menunaikan haji dengan biaya dari harta yang halal dan kemudian diucapkannya, “Labbaikallaahumma labbaik ( ya Allah, inilah aku datang memenuhi panggilan-Mu). Maka berkata penyeru dari langit: “Allah menyambut dan menerima kedatanganmu dan semoga kamu berbahagia. Pembekalanmu halal, pengangkutanmu juga halal, maka hajimu mabrur, tidak dicampuri dosa.” Sebaliknya, jika ia pergi dengan harta yang haram, dan ia mengucapkan: “Labbaik”. Maka penyeru dari langit berseru: “Tidak diterima kunjunganmu dan engkau tidak berbahagia. Pembekalanmu haram, pembelanjaanmu juga haram, maka hajimu ma’zur (mendatangkan dosa) atau tidak diterima.” (HR. Tabrani).

Agar ibadah haji yang kita lakukan tidak sia-sia dan diterima oleh Allah SWT, maka kita harus memastikan harta yang kita gunakan untuk menjalankan ibadah tersebut berasal dari harta yang halal dan diperoleh dengan cara yang halal pula. Dengan begitu, semoga ibadah haji yang kita lakukan bisa tergolong kedalam haji mabrur. Aamin.

Tata Cara Ibadah Haji (Manasik Haji) yang Dilakukan Sesuai dengan Syariat Agama Islam dan Ajaran Nabi Muhammad SAW

Ibadah seorang hamba akan diterima apabila ibadah yang dilakukannya dikerjakan dengan ikhlas dan ittiba (sesuai dengan tuntunan Nabi Muhammad SAW). Dalam setiap menjalankan ibadah haruslah disertai dengan keikhlasan, agar ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Sebagaimana firman-Nya:

وَمَا أُمِرُوا إِلاَّ لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلاَةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ

Artinya:

“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama”. [QS. Al Bayyinah : 5]

Dalam ayat tersebut dijelaskan bahwa Allah SWT menyuruh setiap hamba-Nya untuk memurnikan ketaatannya hanya kepada-Nya dalam setiap ibadah yang dilakukannya. Hal ini juga diperjelas oleh sabda Nabi Muhammad SAW dalam hadist berikut ini:

إِنَّ اللهَ عَزَّ وَ جَلَّ لاَ يَقْبَلُ مِنَ الْعَمَلِ إِلاَّ مَا كَانَ لَهُ خَالِصًا وَابْتُغِيَ بِهِ وَجْهُهُ

Artinya:

“Sesungguhnya Allah tidak menerima suatu amal perbuatan kecuali yang murni dan hanya mengharap ridho Allah”. [HR. Abu Dawud dan Nasa’i].

Faktor kedua yang menetukan diterima ibadahnya seseorang adalah ittiba, yaitu ibadah yang dilakukan haruslah sesuai dengan tuntunan dan ajaran Nabi Muhammad SAW. Karena Allah SWT telah mengutus Nabi Muhammad untuk jadi panutan dalam setiap amalan dan ibadah yang kita lakukan. Sebagaimana Firman-Nya:

وَمَا ءَاتَاكُمُ الرَّسُولُ فَخُذُوهُ وَمَا نَهَاكُمْ عَنْهُ فَانْتَهُوا

Artinya:

“Dan apa-apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah dia, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah”.[QS. Al Hasyr : 7].

Maka dari itu, sudah selayaknya kita dalam menjalankan ibadah haji yang dilakukan haruslah disertai dengan keihlasan dan sesuai dengan Tuntunan Nabi Muhammad SAW. Agar ibadah haji yang kita lakukan dapat diterima oleh Allah SWT dan tergolong kedalam haji mabrur. Ikutilah semua tata cara haji sebagaiman yang telah diajarkan oleh Rosulullah SAW. Dengan melaksanakan semua rukun dan wajib haji dan meninggalkan segala sesuatu yang dilarang selama melakukan ibadah haji. Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Hendaklah kamu mengambil manasik hajimu dari aku.” (HR. Muslim)

Menghindari Hal-Hal yang Berbau Maksiat Selama Melaksanakan Ibadah Haji

Maksiat adalah salah satu hal yang dilarang keras oleh Agama Islam. Begitu juga pada saat melaksanakan ibadah haji, maksiat adalah salah satu hal yang dapat menyebabkan ibadah haji seseorang tidak diterima oleh Allah SWT. Ada beberapa hal yang dilarang selama menjalankan ibadah haji diantaranya adalah rafats, fusuq dan jiddal. Sebagaimana firman Allah SWT dalam AlQuran:

الْحَجُّ أَشْهُرٌ مَعْلُومَاتٌ فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya:

“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang diketahui, barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan-bulan itu untuk mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, fusuq dan berbantah-bantahan selama mengerjakan haji.” (QS. Al-Baqarah 197).

Dalam ayat diatas Allah SWT jelas melarang jamaah haji melakukan rafats, fusuq dan jiddal (berbantah-bantahan selama mengerjakan ibadah haji). Hal ini juga dijelaskan dalam sabda Nabi Muhammad SAW:

مَنْ حَجَّ فَلَمْ يَرْفُثْ وَلَمْ يَفْسُقْ رَجَعَ كَهَيْئَتِهِ يَوْمَ وَلَدَتْهُ أُمُّهُ

Artinya:

“Barang siapa yang haji dan ia tidak rafats dan tidak fusuq, ia akan kembali pada keadaannya saat dilahirkan ibunya.” {HR. Muslim (1350) dan yang lain, dan ini adalah lafazh Ahmad di Musnad (7136)}.

Kedua dalil di atas menjelaskan bahwa ibadah haji seseorang tidak diterima oleh Allah SWT apabila ia melakukan beberapa hal yang dilarang selama melakukan ibadah haji, diantaranya rafats, fusuq dan jiddal. Dan Apabila dilanggar maka haji mabrur yang diimpikan dan diharapkan tidak akan bisa diraih. Maka dari itu, mintalah pertolongan Allah SWT agar kita senatiasa dijauhkan dari hal-hal yang berbau dosa dan maksiat.

Ibadah Haji yang Dilakukan Membawa Dampak Kebaikan

Salah satu tanda yang dapat menunjukan bahwa hajinya mabrur adalah dengan melihat perubahan pada diri seseorang yang menjalankannya. Tentu perubahan yang terjadi adalah perubahaan yang berorientasi pada kebaikan bukan pada keburukan. Apabila ibadah hajinya diterima, tentu Allah SWT akan memberikan hidayah dan taufik-Nya dan ia akan senantiasa berada pada jalan yang benar dan selalu istiqamah untuk melakukan segala sesuatu yang baik. Sebaliknya apabila usai menjalankan ibadah haji tidak terdapat perubahan pada dirinya dan malah mengerjakan hal-hal yang buruk, maka itu tandanya ibadah haji yang dilakukannya tidak diterima oleh Allah SWT. “Naudzubillah”.

Salah satu bukti bahwa ibadah haji yang dilakukannya di terima oleh Allah SWT dan tergolong kedalam haji mabrur adalah dengan berbuat baik kepada sesama. Dari Jabir, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah ditanya tentang haji yang mabrur. Jawaban beliau;

إطعام الطعام و طيب الكلام

Artinya:

“Suka bersedekah dengan bentuk memberi makan dan memiliki tutar kata yang baik” (HR. Hakim no. 1778. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini hasan. Lihat Shahihul Jaami’ no. 2819).

Haji mabrur hanya bisa diraih apabila ibadah yang dilakukan diridhoi dan diterima oleh Allah SWT. Allah SWT lah yang berhak dan berkuasa untuk menetukan apakah ibadah haji yang dilakukannya diterima dan tergolong kedalam Haji Mabrur. Maka dari itu, sudah selayaknya kita meminta kepada Allah SWT agar ibadah haji yang kita lakukan bisa diterima dan tergolong kedalam haji mabrur. Dan senatiasa diberikan hidayah untuk senantiasa istiqamah pada jalan yang baik.

Bagi mereka yang tergolong kedalam haji mabrur, akan mendapat pahala yang tak terhingga. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

وَالْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلاَّ الْجَنَّةُ

Artinya:

“Dan haji mabrur tidak ada balasan yang pantas baginya selain surga.” (HR. Bukhari no. 1773 dan Muslim no. 1349).

Demikian penjelasan tentang tanda-tanda haji mabrur dan kiat-kiat untuk mewujudkannya. Semoga ibadah haji yang telah kita lakukan dan yang akan kita lakukan bisa diterima oleh Allah SWT dan tergolong kedalam haji mabrur. اَمِين يَا رَبَّ الْعَالَمِيْن (Amin Ya Rabbal ‘Alamin).

Wallahu’alam bi shawab.