Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel Informasi Penting

Presiden Soekarno Sering Pakai Peci Hitam? Ternyata Begini Asal-Usulnya.

Utama

INFOHAJI.co.id – Sahabat InfoHaji, pasti kamu tidak asing dengan peci hitam. Apalagi kalau kamu melihat sosok pak Soekarno yang sering tampil dengan menggunakan peci hitam.

Belakangan banyak pula tokoh-tokoh nasional saat ini yang menggunakan peci hitam. Sebut saja Prabowo Subianto atau Ridwan Kamil. Mereka semua sama-sama tak meninggalkan tradisi dan atribut pakaian nasional berupa peci atau Songkok di kepala.

Menurut beberapa sumber, pada saat penjajahan, Ir Soekarno mengenakan peci sebagai simbol pergerakan dan perlawanan terhadap penjajah.

1

Sumber: Siloka

Nah, jika merunut sejarah politik di masa silam, ternyata peci ini memiliki alur cerita yang cukup unik. Saat itu di sekolah “dokter pribumi”, STOVIA, pemerintah kolonial punya aturan: siswa “inlander” (pribumi) tak boleh memakai baju eropa.

Lalu darimanakah asal ulus peci atau songkok itu?

Konon, peci merupakan rintisan dari Sunan Kalijaga atau Sunan Kalijogo. Beliau adalah seorang tokoh Wali Songo yang sangat lekat dengan Muslim di Pulau Jawa, karena kemampuannya memasukkan pengaruh Islam ke dalam tradisi Jawa.

Pada mulanya beliau membuat mahkota khusus untuk Sultan Fatah yang diberi nama Kuluk yang memiliki bantuk lebih sederhana daripada mahkota ayahnya, Raja terakhir Majapahit Brawijaya V.

Dikutip dari laman Wartamadani.com, Mahkota itu disebut Kuluk dan mirip kopiah, hanya saja ukurannya lebih besar. Hal itu agar sesuai ajaran Islam yang egaliter. Raja dan rakyat sama kedudukannya di hadapan Allah SWT. Hanya ketakwaan yang membedakan.

Catatan lain, ada pula yang berpendapat Laksmana Ceng Ho yang membawa peci ke Indonesia. Peci berasal dari kata Pe (artinya delapan) dan Chi (artinya energi), sehingga arti itu sendiri merupakan alat untuk penutup bagian tubuh yang bisa memancarkan energinya ke delapan penjuru angin.

Penutup kepala khas ini, ada juga yang menyebutnya Songkok yang berarti “Kosong dari Mangkok.” Artinya, hidup ini seperti mangkok yang kosong. Harus diisi dengan ilmu dan berkah. Sementara kata Kopiah berasal dari “Kosong karena Dipuah.” Maknanya, kosong karena dibuang (di pyah).

Apa yang dibuang? Kebodohan dan rasa iri hati serta dengki yang merupakan penyakit bawaan syaitan. Keabsahan kisah di atas memang masih perlu dipertanyakan. Yang jelas, peci merupakan pemandangan umum di tanah melayu sejak abad 13.

Saat Raja Ternate Zainal Abidin (1486-1500) belajar agama Islam di madrasah Giri, ia membawa oleh-oleh peci saat pulang ke kampung halaman. Jean Gelman Taylor, yang meneliti interaksi antara kostum Jawa dan kostum Belanda periode 1800-1940, menemukan bahwa sejak pertengahan abad ke-19, pengaruh itu tercermin dalam pengadopsian bagian-bagian tertentu pakaian Barat.

Pria-pria Jawa yang dekat dengan orang Belanda mulai memakai pakaian gaya Barat. Menariknya, blangkon atau peci tak pernah lepas dari kepala mereka. Dalam buku Bung Karno Penyambung Lidah Rakyat Indonesia, sang penulis Cindy Adams menuturkan, Soekarno pernah berkata,”Kita memerlukan sebuah simbol dari kepribadian Indonesia.

Peci yang memiliki sifat khas ini, mirip yang dipakai oleh para buruh bangsa Melayu, adalah asli milik rakyat kita. Menurutku, marilah kita tegakkan kepala kita dengan memakai peci ini sebagai lambang Indonesia Merdeka.

Itulah awal mula Sukarno mempopulerkan pemakaian peci. Bangga deh jadinya. So, sekarang tak perlu malu memakai peci. Karena itu jika kamu ingin menggunakan peci hitam, kamu bisalangsung cek saja peci hitam terbaik di sini