Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel

Perbedaan Rukun Haji dan Wajib Haji

perbedaan rukun haji dan wajib haji

Apa Pebedaan Rukun Haji dan Wajib Haji?

Apa itu rukun haji? Dan apa itu Wajib? Adakah perbedaan rukun haji dan wajib haji? Pada kesempatan kali ini, kami akan mencoba membahas tentang perbedaan rukun haji dan wajib haji.

Ibadah haji adalah ibadah yang dilaksanakan di kota Mekkah dengan melakukan berbagai amalan yang telah ditetapkan oleh syariat agama islam, sebagaimana tuntunan dan ajaran dari Rosulullah Saw.

خُذُوا عَنِّى مَنَاسِكَكُمْ فَإِنِّى لاَ أَدْرِى لَعَلِّى أَنْ لاَ أَحُجَّ بَعْدَ حَجَّتِى هَذِهِ

Artinya:

“Ambillah dariku manasik-manasik kalian, karena sesungguhnya aku tidak mengetahui, mungkin saja aku tidak berhaji setelah hajiku ini”. (HR. Muslim).

Dalam hadist diatas dijelaskan, bahwa Rosulullah SAW menyuruh kita semua untuk mengerjakan amalan-amalan haji (manasik) sebagaimana yang telah diajarkannya. Dalam prakteknya, ada banyak amalan yang akan kita lakukan ketika ibadah haji atau umroh. Dan kita harus mengetahui amalan mana yang termasuk kedalam rukun haji dan mana yang termasuk kedalam wajib haji. Mungkin bagi sebagian orang, merasa kesulitan ketika hendak membedakan mana amalan yang termasuk rukun haji dan mana yang termasuk wajib haji. Berikut ini, kami rangkum perbedaan tentang rukun dan wajib haji:

Rukun haji adalah segala amalan atau kegiatan yang harus kita kerjakan selama melakukan ibadah haji, dan bila ada salah satu amalan tidak kita kerjakan maka ibadah haji yang kita lakukan tidak lah sah. Ada lima amalan wajib yang harus dikerjakan oleh seseorang yang hendak melakukan ibadah haji:

Pertama; ihram yaitu niat ketika hendak melaksanakan ibadah haji atau umroh. Apabila tidak melaksanakan ihram, maka ibadah hajinya tidak sah. Rosullullah SAW bersabda:

إِنَّمَا الأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ ، وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى

Artinya:

“Sesungguhnya setiap amalan tergantung pada niat dan setiap orang akan mendapatkan apa yang ia niatkan.” (HR. Bukhari no. 1 dan Muslim no. 1907).

Niat adalah salah satu kunci penting dan sebagai penentu diterimanya suatu amalan atau ibadah yang hendak kita lakukan.

Kedua; wukuf di Padang Arafah yaitu berdiam diri di padang Arafah. Wukuf adalah rukun ibadah haji yang paling penting, apabila tidak dikerjakan maka ibada hajinya tidak sah. Rosulullah SAW bersabda:

الْحَجُّ عَرَفَةُ

Artinya:

“Haji adalah wukuf di Arafah.” (HR. An Nasai no. 3016, Tirmidzi no. 889, Ibnu Majah no. 3015. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Ketiga; Thowaf yaitu mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali. Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Artinya:

“Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj: 29).

Keempat; sa’i yaitu lari-lari kecil antara bukit Shofa dan Bukit Marwah. Rosulullah SAW bersabda:

اسْعَوْا إِنَّ اللَّهَ كَتَبَ عَلَيْكُمُ السَّعْىَ

Artinya:

“Lakukanlah sa’i karena Allah mewajibkan kepada kalian untuk melakukannya.” (HR. Ahmad 6: 421. Syaikh Syu’aib Al Arnauth mengatakan bahwa hadits tersebut hasan).

Kelima; tahallul yaitu terbebasnya seseorang dari larangan ihram selama menjalankan ibadah haji. tahallul seringkali ditandai dengan memotong sebagian rambut atau seluruh rambut. Bagi kaum perempuan cukup memotong atau menggunting tiga helai rambut saja. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ ۖ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَٰلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

Artinya:

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”. (Al-Fath:27).

Sedangkan wajib haji adalah segala amalan atau kegiatan yang harus kita kerjakan selama melakukan ibadah haji, dan apabila ada salah satu amalan tidak kita kerjakan maka ia diharuskan menggantinya dengan dam (denda). Allah SWT berfirman dalam Al-Quran:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لَا تَقْتُلُوا الصَّيْدَ وَأَنْتُمْ حُرُمٌ ۚ وَمَنْ قَتَلَهُ مِنْكُمْ مُتَعَمِّدًا فَجَزَاءٌ مِثْلُ مَا قَتَلَ مِنَ النَّعَمِ يَحْكُمُ بِهِ ذَوَا عَدْلٍ مِنْكُمْ هَدْيًا بَالِغَ الْكَعْبَةِ أَوْ كَفَّارَةٌ طَعَامُ مَسَاكِينَ أَوْ عَدْلُ ذَٰلِكَ صِيَامًا لِيَذُوقَ وَبَالَ أَمْرِهِ ۗ عَفَا اللَّهُ عَمَّا سَلَفَ ۚ وَمَنْ عَادَ فَيَنْتَقِمُ اللَّهُ مِنْهُ ۗ وَاللَّهُ عَزِيزٌ ذُو انْتِقَامٍ

Artinya:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh binatang buruan, ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad yang dibawa sampai ke Ka’bah atau (dendanya) membayar kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin atau berpuasa seimbang dengan makanan yang dikeluarkan itu, supaya dia merasakan akibat buruk dari perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu. Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya. Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.” [Al-Ma’idah Ayat 95]

Berikut ini adalah amalan yang termasuk kedalam wajib haji:

Pertama; ihram yaitu niat untuk melaksanakan ibadah haji atau umroh, dan dilakukan setelah memakai pakaian ihram.

Kedua; mabit di Muzdalifah yaitu bermalam di Muzdalifah pada tanggal 9 Dzulhijjah

Ketiga; melontar jumrah aqabah yaitu melemparkan batu kecil sebanyak tujuh kali lemparan, yang dilaksanakan pada tanggal 10 Dzulhijjah.

Keempat; mabit di Mina yaitu bermalam di Mina pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah (hari-hari Tasyrik)

Kelima; melempar jumrah pada tanggal 11 Dzulhijjah yaitu melempar jumrah di tiga tempat yang berbeda, yaitu Jumrah Shughra, Wustho, dan Kubro. Masing-masing sebanyak tujuh kali lemparan.

Keenam; tawaf wada yaitu melakukan tawaf atau berputar mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran sebelum meninggalkan kota Mekkah.

Jadi dapat disimpulkan bahwa perbedaan dari rukun dan wajib haji terdapat pada hukum dari amalan yang harus dikerjakannya. Rukun haji, apabila tidak dikerjakan maka ibadah haji yang dilakukannya tidak sah. Sedangkan wajib haji, apabila tidak dikerjakan maka ia diwajibkan untuk membayar dam (denda) sebagai gantinya.

Demikian pembahasan tentang perbedaan rukun haji dan wajib haji. Semoga bermanfaat.

Wallahu’alam bi shawab.

[sam_ad id=”3″ codes=”true”]