Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel

Perbedaan Ibadah Haji dan Umroh

perbedaan ibadah haji dan umroh

Perbedaan Ibadah Haji dan Umroh Berdasarkan Aspek Makna, Niat, Waktu, dan Rukun Haji

Ibadah haji dan umroh adalah dua kegiatan ibadah yang sangat familiar dikalangan umat muslim. Akan tetapi tidak semua umat muslim mengetahui akan perbedaan ibadah haji dan umroh. Kedua ibadah tersebut, memang sama-sama dilaksanakan di kota Mekkah, akan tetapi dalam pelaksanaanya ada beberapa hal yang berbeda. Berikut kami sampaikan beberapa perbedaan ibadah haji dan umroh berdasarkan beberapa aspek:

Perbedaan Ibadah Haji dan Umroh dari Segi Makna

Dalam KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), kata “haji” memiliki dua makna; makna yang pertama, haji adalah rukun Islam yang kelima atau ibadah yang sifatnya wajib yang harus dilakukan oleh umat muslim dengan syarat bagi mereka yang sudah mampu dengan mengunjungi Kakbah pada bulan Haji dan mengerjakan amalan haji, seperti ihram, tawaf, sai, dan wukuf; dan makna yang kedua, haji merupakan sebutan bagi orang yang sudah melakukan ziarah ke Mekkah untuk menunaikan rukun Islam yang kelima atau gelar yang diberikan kepada orang yang kembali dari Tanah Suci setelah melakukan ibadah haji.

Dan definisi “umroh” dalam KBBI adalah kunjungan atau ziarah ke Tanah Suci (sebagai bagian dari upacara naik haji, dilakukan setiba di Mekkah) dengan cara berihram, tawaf, sai, dan bercukur, tanpa wukuf di padang Arafah, yang pelaksanaannya dapat bersamaan dengan waktu haji atau di luar waktu haji; haji kecil.

Dari definisi diatas dapat kita ketahui, bahwa ibadah haji dan umroh merupakan dua ibadah yang berbeda, baik itu dilihat dari segi makna, niat, waktu pelaksanaan, tatacara ibadahnya, dan lain-lain.

Perbedaan Haji dan Umroh dari Segi Niat

Niat adalah landasan utama dalam melakukan segala sesuatu. Setiap ibadah yang kita lakukan haruslah dibarengi dengan niat, begitu juga dalam melaksanakan ibadah haji dan umroh, ada niat yang harus kita ucapakan. Fungsi niat itu sendiri adalah untuk membedakan antara satu ibadah yang satu dengan ibadah yang lain. Niat yang diucapkan ketika melaksanakan ibadah haji dan umroh tentulah berbeda, karena kedua ibadah tersebut merupakan dua ibadah yang berbeda dalam pelaksanaannya.

Niat yang diucapkan ketika melaksanakan ibadah haji adalah:

لَبَّيْكَ اللهُمَّ حَجًّا

Artinya:

“Ya Allah, kupenuhi panggilan-Mu untuk berhaji”.

Dan niat yang diucapkan ketika melaksanakan ibadah umroh adalah:

نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَاَحْرَمْتُ بِهَا ِللهِ تَعَالَى

Artinya:

“Saya niat umroh dan ihram umroh karena Allah Ta’ala”.

Perbedaan Haji dan Umroh dari Segi Waktu Pelaksanaannya

Waktu yang digunakan dalam melaksanakan ibadah haji dan umroh berbeda. Ibadah haji hanya bisa dilakukan di waktu- waktu tertentu, lebih jelasnya lagi hanya bisa dilakukan sekali dalam satu tahun. Ibadah haji hanya bisa dilakukan  di bulan haji yaitu tanggal 9 sampai 13 Dzulhijjah, selain di bulan itu haji yang dilakukannya maka tidak sah. Hal ini jelas berbeda dengan waktu pelaksanaan ibadah umroh, ibadah ini bisa dilakukan kapan saja, selain bulan haji tersebut.

Dan dari segi durasi waktu pelaksanaannya pun berbeda, ibadah haji mengahabiskan waktu yang lebih banyak dibandingkan dengan ibadah umroh, karena ritual ibadah yang harus dilakukan oleh seseorang yang melaksanakan ibadah haji lebih banyak dari ibadah umroh.

Perbedaan Ibadah Haji dan Umroh dari Segi Rukunnya

Apa itu rukun? Rukun adalah ketentuan yang harus dipenuhi dalam melaksanakan suatu pekerjaan atau ibadah, dan jika rukun tersebut tidak dipenuhi maka pekerjaan atau ibadah yang dilakukannya tidak sah. Begitu pula dalam pelaksanaan ibadah haji dan umroh, ada beberapa hal yang harus dipenuhi dan dilaksanakan selama melakukan ibadah tersebut.

Rukun haji adalah kegiatan yang harus dilakukan secara berurutan selama melakukan ibadah haji, dan jika ada yang tidak dikerjakan maka ibadah hajinya tidak sah. Sedangkan rukun umroh adalah kegiatan yang harus dilakukan secara berurutan selama melakukan ibadah haji, dan jika ada yang tidak dikerjakan maka ibadah umrohnya tidak sah. Berikut adalah rukun haji dan umroh:

  1. Ihram

Ihram adalah niat untuk memulai ibadah haji dan umroh. Ihram wajib dilakukan oleh semua calon jamaah haji dan umroh sebelum miqat dan diakhiri dengan tahallul, apabila tidak dikerjakan maka wajib bagi mereka untuk menggantinya dengan dam (denda).

Niat untuk memulai ibadah haji dan umroh (ihram), ada yang diniatkan untuk haji saja atau umroh saja dan ada juga yang diniatkan untuk kedua- duanya yaitu haji dan umroh. Berikut adalah niat yang hendak diucapkan ketika ihram:

  1. Apabila calon jemaah haji hendak melakukan haji saja, maka niat yang diucapkan:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ حَجًّا

Artinya:

“Kusambut penggilan-Mu ya Allah untuk melakukan haji”.

  1. Apabila calon jemaah haji hendak melakukan umroh saja, maka niat yang diucapkan:

نَوَيْتُ الْعُمْرَةَ وَأَحْرَمْتُ بِهَا للهِ تَعَالى

Artinya:

“Aku niat haji dengan berihram karena Allah ta’ala.”

  1. Apabila calon jemaah haji hendak melakukan haji dan umroh, maka niat yang diucapkan:

لَبَّيْكَ اللَّهُمَّ حَجًّا وَ عُمْرَةً

Artinya:

“Aku sambut panggilan-Mu ya Allah untuk berhaji dan berumroh”

Ketika sudah melaksanakan ihram, maka jamah haji diwajibkan untuk memenuhi perintah dan larangan yang telah ditetapkan dalam syari’at isalm. Bagi kaum laki- laki, diwajibkan untuk memakai dua helai kain yang tidak berjahit, satu diselendangkan di bahu dan satu lagi disarungkan. Dan kain yang digunakan disunahkan berwarna putih. Dan tidak boleh memakai baju, celana, sepatu yang menutupi bagian tumit dan penutup kepala yang melekat atau menempel dikepala.

Sedangkan bagi kaum perempuan, diwajibkan memakai pakaian yang menutup seluruh tubuh, kecuali muka dan kedua tangan dari pergelangan tangan sampai ujung jari. Dan tidak diperbolehkan mengenakan sarung tangan dan penutup muka seperti masker atau cadar. Adapun hal- hal yang dilarang ketika ihram, hal ini berlaku bagi kaum laki- laki dan perempuan, adalah sebagai berikut:

Pertama,  semua jamaah haji dan umroh dilarang memakai wangi- wangian, kecuali yang sudah dipakai di badan sebelum ihram.

Kedua, semua jamaah haji dan umroh dilarang memotong kuku dan mencukur atau mencabut rambut badan.

Ketiga, semua jamah haji dan umroh dilarang memburu atau membunuh binatang.

Keempat, semua jamaah haji dan umroh dilarang menebang pohon atau mencabut tanaman di Tanah Haram.

Kelima, semua jamaah haji dan umroh dilarang nikah atau menikahkan dan meminang atau dipinang.

Keenam, semua jamaah haji dan umroh dilarang bersentuh-sentuhan dengan syahwat, bercumbu atau bersetubuh (rafas).

Ketujuh, semua jamaah haji dan umroh dilarang mencaci atau bertengkat dan mengucapkan kata- kata kotor (fusuq atau jidal).

  1. Wukuf di Padang Arofah (Bagi Mereka yang Melaksanakan Ibadah Haji)

Wukuf di Arofah adalah salah satu rukun haji dimana semua jamaah haji berdiam diri di Arofah pada tanggal 9 Dzulhijjah (hari Arofah), dimulai dari waktu tergelincirnya matahari sampai terbenamnya matahari (tiba waktu maghrib).

Wukuf di Padang Arafah adalah rukun haji atau kegiatan yang wajib dilakukan dalam melakukan ibadah haji, tidaklah sah ibadah haji seseorang jika dia tidak melaksanakannya. Sebagaimana sabda Rosulullah SAW:

الْحَجُّ عَرَفَةُ

Artinya:

“Haji adalah wukuf di Arofah.” (HR. An Nasai no. 3016, Tirmidzi no. 889, Ibnu Majah no. 3015. Syaikh Al Albani berkata hadits ini shahih).

Dalam suatu hadist disebutkan beberapa keistimewaan hari Arofah; bahwa Allah SWT membanggakan para hamba-Nya yang sedang berkumpul di Arafah di hadapan para malaikat, dan hari Arofah adalah hari dimana seseorang dibebaskan dari api neraka. Hal ini dijelaskan dalam hadist beriku:

Rosulullah SAW bersabda;

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يُعْتِقَ اللَّهُ فِيهِ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِى بِهِمُ الْمَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ

Artinya:

“Di antara hari yang Allah banyak membebaskan seseorang dari neraka adalah hari Arofah. Dia akan mendekati mereka lalu akan menampakkan keutamaan mereka pada para malaikat. Kemudian Allah berfirman: Apa yang diinginkan oleh mereka?” (HR. Muslim no. 1348, dari ‘Aisyah)

  1. Thawaf

Thawaf adalah salah satu rukun haji dan umroh , dimana jamaah haji dan umroh diharuskan untuk mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran. Kegiatan ini diawali dan diakhiri sejajar dan searah dengan HajarAswad. Adapun perintah Allah SWT tentang thawaf dalam Al-quran;

وَلْيَطَّوَّفُوا بِالْبَيْتِ الْعَتِيقِ

Artinya:

“Dan hendaklah mereka melakukan melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (Baitullah).” (QS. Al Hajj: 29)

Berikut adalah syarat- syarat thawaf:

  1. Niat thawaf
  2. Dalam keadaan suci, baik itu badan, pakaian, dan tempat thawaf dari najis
  3. Suci dari pada hadast
  4. Memakai pakaian yang menutup aurat
  5. Thawaf bermula pada sudut Hajar Aswad
  6. Saat sedang thawaf, posisi Ka’bah berada diseblah kiri
  7. Mengelilingi Ka’bah sebanyak tujuh kali putaran
  8. Thawaf dilakukan di Masjidil Haram dan diluar Hijir Ismail/ Syazarwan
  1. Sa’i

Sa’i adalah salah satu rukun haji dan umroh, dimana jamaah haji dan umroh diharuskan untuk berjalan dari bukit Safa ke bukit Marwah sebanyak tujuh kali dan berakhir di bukit Marwah.

Beriku adalah syarat- syarat sa’i:

  1. Niat
  2. Dilakukan setelah thawaf
  3. Menyempurnakan hitungan sampai tujuh kali
  4. Dilakukan di tempat sa’i, yaitu bukit Safa ke bukit Marwah
  5. Tertib
  1. Tahallul

Menurut bahasa tahallul bermakna “ menjadi boleh” atau “diperbolehkan”. Dapat disimpulkan, tahallul adalah diperbolehkannya atau dibebaskannya seseorang yang sedang melakukan ibadah haji dan umroh dari hal- hal yang dilarang selama ihram.

Dalam perakteknya tahallul dilakukan dengan mencukur sebagian atau seluruh rambut di kepala atau menggunting sekurang- kurangnya tiga helai rambut, terutama bagi wanita. Allah SWT berfirman:

لَقَدْ صَدَقَ اللَّهُ رَسُولَهُ الرُّؤْيَا بِالْحَقِّ ۖ لَتَدْخُلُنَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ إِنْ شَاءَ اللَّهُ آمِنِينَ مُحَلِّقِينَ رُءُوسَكُمْ وَمُقَصِّرِينَ لَا تَخَافُونَ ۖ فَعَلِمَ مَا لَمْ تَعْلَمُوا فَجَعَلَ مِنْ دُونِ ذَٰلِكَ فَتْحًا قَرِيبًا

Artinya:

“Sesungguhnya Allah akan membuktikan kepada Rasul-Nya, tentang kebenaran mimpinya dengan sebenarnya (yaitu) bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya, sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat”. (Al-Fath:27)

Dari penjelasan rukun haji dan umroh diatas, dapat disimpulkan bahwa terdapat perbedaan di dalam rukun haji dan umroh. Perbedaan tersebut terdapat pada pelaksanaan wukuf di Padang Arofah. Orang yang melakukan ibadah umroh, tidak melakukan wukuf sebagaimana yang diharuskan dalam rukun haji, karena wukuf bukanlah bagian dari rukun umroh.

Demikianlah penjelasan tentang perbedaan ibadah haji dan umroh. Semoga bermanfaat. Wallahu’alam bi shawab.