Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel Informasi Penting

Menghias Tangan Dengan Henna, Bolehkah? Baca Dulu Hukumnya Sebelum Kamu Menggunakan

Utama (2)

InfoHaji.co.id – Sahabat InfoHaji, kamu tentu sudah mengenal Henna, sebuah seni menghias tangan yang saat ini banyak digunakan untuk mempercantik diri, terutama saat momen pernikahan.

Lalu apa sih Henna itu? Henna adalah tanaman yang tumbuh di tempat yang panas, daerah kering seperti Timur Tengah dan Afrika Utara. Daun kering kemudian ditumbuk menjadi bubuk. Serbuk bahan utama yang digunakan untuk membuat pasta yang dibutuhkan untuk henna . Kemudian Henna di pakai untuk di tangan, kaki atau tubuh lainnya dan henna merekat pada kulit yang telah dipakaikan henna tersebut.

Henna dianggap sebagai salah satu kosmetik tertua di dunia, dan telah digunakan pada kulit, kuku dan rambut selama berabad-abad. Menggunakan henna telah didokumentasikan sejauh 9.000 tahun yang lalu, yang sudah dimanfaatkan oleh beberapa kebudayaan termasuk: India, Mesir, Afrika, Sumeria, Timur Tengah, dan sepanjang Mediterania. Ini berasal sebagai bentuk merayakan kemenangan dan kesuburan oleh masyarakat kuno, melainkan juga digunakan dalam proses mumifikasi oleh orang Mesir kuno.

Henna digunakan oleh tokoh-tokoh sejarah terkenal dan termasyhur termasuk: Ratu Sheba, Nefertiti, Fatima, dan Cleopatra.

Namun, banyak orang yang masih bingung dengan status hukum Henna. Apakah Henna termasuk ke dalam tato? Apakah Henna bisa menghalangi wudhu?

Dalam buku kumpulan fatwa bertajuk “Al-Fatawa Al-Jami’ah Lil Maratil Muslimah”, disebutkan bahwa henna disarankan penggunaannya bagi para wanita yang telah menikah. Ada beberapa dalil yang menunjukkan dibolehkannya merias tangan dan kaki dengan henna.

Di antara yang membolehkan yakni hadits yang dikabarkan Aisyah, Beliau radhiyallahu ‘anhuma mengisahkan bahwa ada seorang wanita yang menyodorkan kitab kepada Rasulullah dari balik tabir. Melihatnya, Rasulullah pun menahan tangan beliau dan berkata, “Saya tidak tahu, ini tangan pria atau tangan wanita (karena tak mengenakan inai)?” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).

Hadits lain yang juga masih dari Aisyah, beliau pernah ditanya seorang wanita muslimah tentang hukum menggunakan inai. Ummul Mukminin pun menjawab, “Boleh, akan tetapi aku tak menyukainya dan Rasululullah shallallahu ‘alaihi wasallam tak menyukai baunya,” (HR. Abu Dawud dan An Nasa’i).

Dari hadits tersebut diketahui bahwa Rasulullah membolehkan penggunaan hena meski beliau tak menyukai aromanya. Pun demikian dengan Aisyah. Meski Aisyah tak menyukainya, bukan berarti hena menjadi haram bagi muslimah lain. Dua hadits tersebut pun menjadi dalil kuat akan kebolehan penggunaan hena.

Akan tetapi, kebolehan tersebut memiliki dua ketentuan sebagaimana dalam Fatawa Nur ‘ala ad-Darb. Apa saja ketentuan tersebut? Yang pertama yakni hena dikhususkan bagi wanita berstatus menikah. Seperti dalam hadits di atas dan yang dilakukan para shahabiyah di masa lalu, hena biasa dilakukan oleh para wanita yang telah menjadi istri. Lalu, apakah wanita belum menikah tak boleh memakainya? Tak disebutkan larangannya dalam buku fatwa tersebut.