Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel

Mau Umroh Tapi Pakai Duit Hasil Utang? Ternyata Begini Hukumnya

Utama

INFOHAJI.co.id – Sahabat InfoHaji, umroh merupakan ibadah yang sangat diminati. Apalagi oleh masyarakat di Indonesia. Dalam setahun sedikitnya ada waktu favorit yang paling diminati: bulan ramadhan, akhir tahun, dan setelah musim haji. Pada waktu-waktu ini, harga paket umroh pun melambung tinggi.

Masyarakat Indonesia sendiri memiliki minat yang luar biasa untuk bisa pergi ke tanah suci guna beribadah umroh. Kerinduan untuk menjadi tamu Allah seakan membuat mereka bersedia menempuh cara-cara di luar nalar. Hal ini pun membuat banyak pihak perbank-an siap sedia dalam menyediakan dana talangan. Bahkan tidak sedikit yang menawarkan paket-paket menggila. Misalnya, ibadah dulu, bayar kemudian.

Pada laman Liputan6 disebutkan bahwa pada tahun 2014, terdapat 750 ribu umat Islam Indonesia pergi ke tanah suci Mekah untuk umrah. Jumlah ini tentu semakin besar saat ini, mengingat minat berumrah masih tinggi sejalan dengan antrean ibadah haji yang semakin lama dan panjang.

Lalu bagaimana menanggapi hal ini? Apakah diperbolehkah mengambil utang untuk ibadah umrah? Nah berikut ini adalah jawabannya, yang dirangkum dari berbagi sumber:

1.Disarankan tidak, jika…

Bagi kamu yang ingin menunaikan ibadah namun harus berutang, sebaiknya hindari. Sebab hukum awalnya ibadah umroh adalah sunnah, yang bila dikerjakan mendapat pahala, bila tidak dikerjakan tidak mendapat dosa.

Sementara, untuk ibadah haji yang termasuk ibadah wajib bahkan menjadi rukun iman, Allah pun masih memberikan keloggaran, yaitu diberlakukan bagi mereka yang mampu.

Hal ini pun disebutkan dalam kitab Mawahib al-Jalil Syarhu Mukhtashar Khalil, dimana di situ dijelaskan bahwa jika ada seseorang tidak bisa sampai ke Makkah kecuali dengan cara berhutang, sedangkan ia sebenarnya tidak mampu membayarnya, maka dalam konteks ini ia tidak wajibkan. Ini adalah pandangan yang telah disepakati para ulama. Apalagi jika kamu tidak memiliki penghasilan yang jelas dan tetap.

2. Boleh, Tapi Dengan Catatan

Bagi kamu yang ingin menunaikan umroh tapi dengan dana utang, secara sah diperbolehkan dan tidak ada masalah. Namun dengan catatan kami mampu membayar utangnya. Dan dalam hal ini kamu dikategorikan sebagai orang yang mampu. Karenanya, kamu boleh melaksanakan umroh bahkan haji sekalipun, meski dengan cara berutang. Sebab, kemampuan kamu untuk membayar utang tersebut menyebabkan kamu dianggap sebagai orang yang sudah istitha’ah (memiliki kemampuan).

مَنْ لَا يُمْكِنُهُ الْوُصُولُ إِلَى مَكَّةَ إِلَّا بِأَنْ يَسْتَدِينَ مَالًا فِي ذِمَّتِهِ وَلَا جِهَةَ وَفَاءٍ لَهُ فَإِنَّ الْحَجَّ لَا يَجِبُ عَلَيْهِ لِعَدَمِ اسْتِطَاعَتِهِ وَهَذَا مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ، وَأَمَّا مَنْ لَهُ جِهَةُ وَفَاءٍ فَهُوَ مَسْتَطِيعٌ إِذَا كَانَ فِى تِلْكَ الْجِهَةِ مَا يُمْكِنُهُ بِهِ الْوُصُولُ إِلَى مَكَّةَ

“Barang siapa yang tidak mungkin bisa sampai ke Makkah kecuali dengan berhutang dan ia tidak memiliki kemampuan untuk membayarnya, maka ia tidak wajib haji karena ketidakmampuannya. Ini adalah pandangan yang disepakati para ulama. Adapun orang yang bisa mampu membayarnya, maka dikategorikan sebagai orang yang mampu seandainya ketika ia berhutang memungkin baginya untuk bisa sampai ke Makkah”. (Al-Haththab ar-Ru’aini, Mawabib al-Jalil Syarhu Mukhatshar al-Khalil, Bairut-Daru ‘Alam al-Kutub, 1423 H/2003 M, juz, III, h. 468)

Nah, dari penjelasan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa berutang untuk menjalankan umrah sebenarnya tidak ada persoalan, asalkan kamu yakin mampu membayar utang tersebut di kemudian hari.

Meski begitu, bukan berarti kamu bisa seenaknya berutang. Kamu tetap harus waspada, apalagi jika ada akad (perjanjian) yang menyebabkan kamu terjerat pada urusan riba.