Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel

Masya Allah, Perjuangan Kakek Pemulung Naik Haji Sungguh Mengharukan

Utama

Hampir setiap tahun jutaan umat manusia merapat ke sebuah tempat termulia di muka bumi ini, Arab Saudi, untuk menunaikan ibadah haji. Hampir setiap tahun ratusan ribu jamaah dari Indonesia diberangkatkan. Pada 2018 ini, Indonesia mendapatkan kuota untuk memberangkatkan jamaah sebanyak 221.000.

Dan pada tahun ini pula, seorang kakek tua asal Probolonggo, Jawa Timur, ikut memenuhi panggilan dari Allah. Adalah Miskat, kakek 70 tahun ini ternyata membuat decak kagum banyak orang.

1

Sumber: Jawa Pos

Selain karena faktor usia yang tidak lagi muda, Miskat tetap bersikukuh untuk beribadah dan menyempurnakan rukun Islam ke lima. Lantas seperti apa adalah perjuangan Miskat ? Berikut kisah selengkapnya:

Menyisihkan Penghasilan Dari Mulung Sampah

2

Sumber: Andika Jati

Tidak hanya faktor usia yang menyita perhatian, tapi juga perjuangannya untuk menyisihkan penghasilan. Sebagai seorang pemulung, setiap hari ia mencari nafkah dengan memungut sampah. Mulai dari Kardus, botol, serta barang bekas lain menjadi penghidupannya.

Penghasilannya pun tidak menentu. Di tengah terik matahari dan raga yang sudah payah, terkadang Miskat hanya mampu membawa pulang Rp15 ribu. Jika beruntung, paling besar dirinya bisa membawa Rp30 ribu.

Meski hidup dalam jerat kemiskinan, ternyata tidak membuat Miskat lupa dengan cita-citanya yang dipupuk sejak usia dini. Ingin berhaji. Mendatangi Baitullah. Dari penghasilan kecil itu dia sisihkan. “ Ya lama nabungnya, kalau punya uang, kan buat makan. Kadang tiga ribu, lima ribu,” ujar Miskat.

Menabung Di Bawah Tumpukan Baju

3

Sumber: Keepo

Pendidikan yang rendah dengan finansial yang lemah, Membuat Miskat belum akrab dengan bank. Bahkan Miskat mengaku tidak memiliki tempat khusus untuk menyimpan uangnya. Uang yang didapat dari memulung disimpannya dalam lemari miliknya di bawah tumpukan baju.

“Disimpan di lemari, di bawah tumpukan baju,” ucapnya.

Pertengahan 2010, Miskat memberanikan diri membawa uang yang dikumpulkannya sebesar Rp 3 juta ke pemilik KBIH di Probolinggo bernama Saiful. Miskat pun didaftarkan.
Miskat pun didaftarkan dengan mekanisme dana talangan dengan jaminan pemilik KBIH. Miskat akhirnya bisa melunasi setelah 3 tahun pasca pendaftaran.

Sempat Ditunda Keberangkatan

4

Sumber: labbaik.id

Dalam empat bulan jelang keberangkatan, Miskat didera penyakit sesak nafas. Namun dia ngotot tetap ingin berangkat ke tanah suci. Bahkan saat berangkat dari Probolinggo ke Asrama Haji di Surabaya, Miskat harus diantar mobil ambulans. Harusnya Miskat terbang malam ini ke tanah suci, namun karena kondisinya yang harus diobservasi, tim dokter Rumah Sakit Haji Surabaya merekomendasikan untuk menunda keberangkatan Miskat.

Namun hal tersebut tak kemudian menjadikannya berkecil hati. Miskat terus berdoa agar kesempatan tersebut datang kepadanya. Dan tahun ini, Miskat tercatat sebagai jamaah haji yang tergabung dalam kelompok terbang 38.