Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel

Larangan selama ihram

larangan selama ihram

Tujuh Hal yang Termasuk Kedalam Larangan Selama Ihram

Ihram adalah salah satu rukun haji, dimana jamaah haji diharuskan melaksanakan niat ihram dan apabila jamaah tersebut telah berniat ihram, maka wajib baginya untuk mengikuti segala ketentuan yang telah diterapkan oleh syariat agama islam, termasuk didalamnya menjauhi segala sesuatu yang tidak diperbolehkan atau dilarang selama ihram. Berikut ini adalah tujuh hal yang termasuk kedalam larangan selama ihram:

Jamaah Haji yang Telah Berihram Dilarang Mencukur Rambut

Bagi jamaah haji yang telah melaksanakan niat ihram, maka tidak diperbolehkan mencukur atau memotong rambutnya, sedikit pun. Begitu juga dengan rambut-rambut lain yang terdapat pada anggota tubuhnya. Allah SWT berfirman:

وَلَا تَحْلِقُوا رُءُوسَكُمْ حَتَّى يَبْلُغَ الْهَدْيُ مَحِلَّهُ

Artinya:

“Dan jangan kamu mencukur kepalamu, sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya” (Qs. Al-Baqarah : 196).

Ayat diatas menjelaskan tentang larangan mencukur atau memotong rambut, sebelum waktu penyembelihan hewan kurban datang. Selama melaksanakan ihram, tidak hanya mencukur rambut yang dilarang. Akan tetapi, menghilangkan bagian dari anggota tubuh lainnya juga dilarang, seperti memotong kuku. Dan apabila jamaah haji terpaksa harus mencukur rambutnya karena sebab-sebat tertentu (udzur), maka diperbolehkan baginya untuk mencukur rambutnya dan menggantinya dengan membayar fidyah. Sebagaimana sabda Rosulullah SAW:

كَأَنَّ هَوَامَّ رَأْسِكَ تُؤْذِيكَ فَقُلْتُ أَجَلْ قَالَ فَاحْلِقْهُ وَاذْبَحْ شَاةً أَوْ صُمْ ثَلَاثَةَ أَيَّامٍ أَوْ تَصَدَّقْ بِثَلَاثَةِ آصُعٍ مِنْ تَمْرٍ بَيْنَ سِتَّةِ مَسَاكِينَ

Artinya:

“Sepertinya kutu pada rambut kepalamu telah melukaimu.”Saya menjawab, “Benar” Beliau lalu bersabda: “Cukurlah rambutmu. Kemudian sembelihlah seekor kambing, atau kamu berpuasa tiga hari, atau bersedekah sebanyak tiga sha’ kurma untuk dibagikan kepada enam orang miskin.” (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Daud).

Jamaah Haji yang Telah Berihram Dilarang Mengenakan Penutup Kepala

Seseorang yang telah melaksanakan niat ihram, maka tidak diperbolehkan atau dilarang baginya mengenakan penutup yang melekat pada kepala. Sebagaimana sabda Rosulullah SAW:

لاَ يَلْبَسُ الْقُمُصَ وَلاَ الْعَمَائِمَ وَلاَ السَّرَاوِيلاَتِ وَلاَ الْبَرَانِسَ وَلاَ الْخِفَافَ ، إِلاَّ أَحَدٌ لاَ يَجِدُ نَعْلَيْنِ فَلْيَلْبَسْ خُفَّيْنِ ، وَلْيَقْطَعْهُمَا أَسْفَلَ مِنَ الْكَعْبَيْنِ ، وَلاَ تَلْبَسُوا مِنَ الثِّيَابِ شَيْئًا مَسَّهُ الزَّعْفَرَانُ أَوْ وَرْسٌ

Artinya:

Tidak boleh memakai baju, atau imamah (penutup kepala), atau celana, atau burnus (baju yang ada penutup kepala), atau sepatu. Kecuali orang yang tidak memiliki sandal, dia boleh memakai sepatu, dan hendaknya dia potong hingga di bawah mata kaki (terbuka mata kakinya). Dan tidak boleh memakai kain yang diberi minyak wangi atau pewarna (wantex). (HR. Bukhari 1468 dan Muslim 2848).

Memakai menutup kepala baru diperbolehkan apabila penutup kepala yang dikenakan tidak menempel langsung pada kepala, seperti payung. Hal ini sesuai dengan hadist Nabi Muhammad SAW:

عَنْ أُمِّ الْحُصَيْنِ جَدَّتِهِ قَالَتْ حَجَجْتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ حَجَّةَ الْوَدَاعِ فَرَأَيْتُ أُسَامَةَ وَبِلَالًا وَأَحَدُهُمَا آخِذٌ بِخِطَامِ نَاقَةِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَالْآخَرُ رَافِعٌ ثَوْبَهُ يَسْتُرُهُ مِنْ الْحَرِّ حَتَّى رَمَى جَمْرَةَ الْعَقَبَةِ

Artinya:

“Dari Ummu Hushain neneknya, ia berkata; Aku ikut menunaikan haji bersama-sama dengan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ketika haji wada’. Aku melihat Bilal dan Usamah; yang satu memegang tali Unta Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam, dan yang satu lagi memayungi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam dengan bajunya dari sengatan terik matahari sampai beliau selesai melempar Jamrah Aqabah” (HR. Muslim).

Jamaah Haji Tidak Diperbolehkan atau Dilarang Mengenakan Pakaian yang Berjahit Selama Ihram

Bagi jamaah haji laki-laki yang sedang melaksanakan ihram dilarang untuk menggunakan pakaian yang berjahit, seperti kemeja, celana, peci dan sepatu. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا يَلْبَسُ الْمُحْرِمُ مِنْ الثِّيَابِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لَا تَلْبَسُوا الْقُمُصَ وَلَا الْعَمَائِمَ وَلَا السَّرَاوِيلَاتِ وَلَا الْبَرَانِسَ وَلَا الْخِفَافَ

Artinya:

“Dari Ibnu Umar radliallahu ‘anhuma, bahwa seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam perihal pakaian Ihram. Maka Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pun menjawab: “Tidak boleh pakai kemeja, serban, celana, peci dan sepatu.” ( HR Bukhari dan Muslim ).

Beda halnya dengan kaum perempuan, mereka diperbolehkan mengenakan pakaian yang berjahit asalkan pakaian yang digunkan menutup aurat dan tidak membentuk salah satu anggota tubuh (tidak ketat). Hanya saja, tidak diperbolehkan atau dilarang mengenakan penutup muka (cadar) dan sarung tangan. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist berikut ini:

وَلاَ تَنْتَقِبِ الْمَرْأَةُ الْمُحْرِمَةُ وَلاَ تَلْبَسِ الْقُفَّازَيْنِ

Artinya:

“Wanita ihram tidak boleh memakai cadar dan tidak boleh memakai kaos tangan.” (HR. Bukhari 1838, Nasai 2693 dan yang lainnya).

Jamaah Haji yang Telah Berihram Dilarang Menyemprotkan Wewangian pada Tubuh atau Pakaian Ihram

Seseorang yang telah melaksanakan ihram (niat ihram) maka ia tidak diperbolehkan menyemprotkan atau memakai wewangian pada tubuh atau pakaian ihram yang hendak dikenakannya. Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW:

وَلَا تَلْبَسُوا شَيْئًا مِنْ اَلثِّيَابِ مَسَّهُ اَلزَّعْفَرَانُ وَلَا اَلْوَرْسُ” – مُتَّفَقٌ عَلَيْهِ وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ

Artinya:

“Dan jangan memakai pakaian yang tersentuh minyak za’faran dan waros (wewangian dari tanaman yang warnanya merah).” [Muttafaq ‘alaih, sedangkan lafazhnya adalah lafazh Muslim. Dalam Bulughul Marom pada hadits no. 731].

Jamaah Haji Dilarang Melamar, Dilamar dan Melakukan Akad Nikah Selama Ihram

Jamaah haji yang sedang melaksanakan ihram dilarang melamar, dilamar dan melakukan akad nikah. Begitu juga, dilarang menjadi wakil dalam suatu pernikahan. Apabila pernikahan tersebut tetap dilaksankan maka nikah yang dijalankannya tidak sah dan batal, dan tidak wajib membayar fidyah.

Rosulullah SAW bersabda:

وَسَلَّمَ لَا يَنْكِحُ الْمُحْرِمُ وَلَا يُنْكَحُ وَلَا يَخْطُبُ

Artinya:

“Orang yang sedang berihram tidak diperbolehkan untuk menikahkan, dinikahkan dan meminang.” (HR. Muslim).

Jamaah Haji Dilarang Melakukan Hubungan Suami Istri (Rafats) Selama Melaksanakan Ihram

Jamaah haji yang sedang melaksanakan ihram, dilarang melakukan hubungan suami istri (rafats). Sebagaimana firman Allah SWT:

فَمَنْ فَرَضَ فِيهِنَّ الْحَجَّ فَلاَ رَفَثَ وَلاَ فُسُوقَ وَلاَ جِدَالَ فِي الْحَجِّ

Artinya:

“Barang-siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. (QS. Al Baqarah: 197)

Bagi jamaah haji yang melakukan hubungan suami istri sebelum tahallul awal, maka harus menanggung konsekuensi berikut ini:

  1. Rusaknya ibadah haji yang sedang dijalankannya
  2. Ibadah haji yang dilakukan wajib disempurnakan atau diselesaikan sampai tuntas, walaupun ibadah haji yang dilakukannya telah dinyatakan rusak
  3. Harus dipisah dengan pasangannya dan tidak boleh berkumpul dengannya dalam satu tenda dan tidak boleh bersamanya di dalam kendaraan
  4. Menyembelih unta
  5. Jika telah tiba tahun depan, maka mereka harus haji lagi, dan masing-masing dari mereka harus menyembelih hewan qurban. Dan apabila mereka berdua sampai pada temat dimana mereka melakukan hal yang dilarang tersebut, maka mereka harus berpisah sampai usainya ritual tahallul.

Selama Ihram Jamaah Haji Dilarang Membunuh Binatang Buruan yang Ada di Darat

Selama melaksanakan ihram, para jamaah haji dilarang melakukan aktivitas pemburuan atau membunuh binatang yang ada di darat. Sebagaimana firman Allah SWT dalam Al-Quran:

وَحُرِّمَ عَلَيْكُمْ صَيْدُ الْبَرِّ مَا دُمْتُمْ حُرُمًا

Artinya:

“Dan diharamkan atasmu (menangkap) binatang buruan darat, selama kamu dalam ihram.” (QS. Al Ma’idah : 96)

Apabila jamaah haji melanggar salah satu dari hal-hal yang dilarang diatas, maka wajib baginya untuk membayar Fidyah.

Demikian penjelasan tentang hal-hal yang dilarang selama ihram. Semoga bermanfaat!

Wallahu A’lam Bishawab.

 

Products you may be interested in;

[sam_ad id=”6″ codes=”true”]