Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel

Keutamaan Kota Madinah Sebagai Kota Suci Kedua Bagi Umat Muslim

keutamaan kota madinah

Madinah, sebuah kota yang ramai dikunjungi oleh umat muslim dari berbagai belahan dunia terutama saat pelaksanaan ibadah haji atau umroh. Dan di tempat ini pula Rosulullah membangun sebuah masjid, dikenal dengan sebutan Masjid Nabawi yang didirikan tahun 622 M atau tahun pertama hijriah, setelah Rosulullah shallallahu ‘alaihi wassallam hijrah dari Mekah ke Madinah. Dan disisi masjid tersebut dibangun tempat kediaman Rosulullah berserta keluarganya yang kemudian menjadi tempat pemakaman Rosulullah, keluarga dan para sahabat.

Salah satu keistimewaan dan keutamaan Masjid Nabawi, sebagaimana yang dijelaskan dalam suatu hadist bahwa shalat di Masjid Nabawi tidaklah seperti shalat di masjid lainnya, Allah telah menetapkan padanya keutamaan yang besar, sebagaimana Allah telah melebihkan sebahagian amalan di atas sebagian yang lain. Sebagaimana sabda Rosulullah saw:

صَلاَةٌ فِى مَسْجِدِى هَذَا خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ صَلاَةٍ فِيمَا سِوَاهُ إِلاَّ الْمَسْجِدَ الْحَرَامَ

Artinya:

“Shalat di masjidku (Masjid Nabawi) lebih baik dari 1000 shalat di masjid lainnya selain Masjidil Harom.” (HR. Bukhari no. 1190 dan Muslim no. 1394, dari Abu Hurairah)

Rosulullah mencitai kota Madinah sebagaimana beliau mencintai kota kelahirannya, yaitu kota suci Mekkah. Walapun beliau lahir dan tumbuh besar di kota Mekkah, namun Madinah tetap mempunyai posisi tersendiri di hati Rosulullah shallallahu ‘alaihi wassallam. Sebagaimana doa yang dipanjatkannya:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَحُبِّنَا مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ

Artinya:

“Ya Allah, jadikanlah kami mencintai Madinah sebagaimana kecintaan kami terhadap Makkah atau lebih cinta lagi.” (Shahih Al Bukhari)

Selain dari segi ibadah, Masjid Nabawi juga dikenal dengan beberapa keistimewaan dan keutamaan lainnya. Sebagaimana yang dijelaskan dalam beberapa hadist berikut ini:

Pertama, Madinah sebagai kota suci kedua setelah Mekkah

Di kota inilah, islam tumbuh, berkembang dan menyebar luas, sehingga semesta yang kala itu tertutup oleh kegelapan jahiliyah menjadi terang benderang oleh cahaya islam. Dan Rosulullah shallallahu ‘alaihi wassallam, telah menjadi kota Madinah sebagai kota yang suci sebagaimana Mekkah. Dalam hadist dijelaskan:

Dari Jabir Radhiyallahu ‘Anhu, ia berkata: Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

إِنَّ إِبْرَاهِيْمَ حَرَّمَ مَكَّةَ. وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِيْنَةَ مَا بَيْنَ لاَبَتَيْهَا. لاَ يُقْطَعُ عِضَاهُهَا وَلاَ  يُصَادُ صَيْدُها

“Sesungguhnya Ibrahim menjadikan Makkah Tanah Suci dan aku menjadikan Madinah Tanah Suci di antara tepinya. Tidak boleh ditebang kayu berdurinya dan tidak boleh diburu binatang buruannya.” (HR. Al-Bukhari)

Kedua, Madinah sebagai salah satu tempat yang dipenuhi dengan kebaikan dan keberkahan

Seperti halnya kota Mekkah yang diselimuti keberkahan Allah SWT, Madinah juga menjadi salah satu tempat yang dipenuhi dengan kebaikan dan keberkahan yang ditunkah Allah kepadanya. Sebagaimana salah satu hadist berikut ini:

Diriwayatkan dari Zaid bin Tsabit Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam, beliau bersabda tentang kota Madinah,

إِنَّهَا طَيْبَةُ يَعْنِي الْمَدِينَةَ وَإِنَّهَا تَنْفِي الْخَبَثَ كَمَا تَنْفِي النَّارُ خَبَثَ الْفِضَّةِ

“Ia Thaibah, yaiut Madinah. Ia menghilangkan segala keburukan sebagaimana api yang menghilangkan kotoran pada perak.” (HR. Muslim)

Dari ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anha berkata, “Kami tiba di Madinah ketika kota tersebut dilanda wabah penyakit sehingga Abu Bakar dan Bilal mengeluhkan keadaan itu. Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam menyaksikan keluhan para sahabatnya, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ حَبِّبْ إِلَيْنَا الْمَدِينَةَ كَمَا حَبَّبْتَ مَكَّةَ أَوْ أَشَدَّ وَصَحِّحْهَا وَبَارِكْ لَنَا فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا وَحَوِّلْ حُمَّاهَا إِلَى الْجُحْفَةِ

” Ya Allah, jadikanlah kami cinta kepada Madinah sebagaimana Engkau membuat kami mencintai Makkah bahkan lebih besar lagi, bersihkanlah lingkungannya, berkatilah untuk kami dalam setiap sha` serta mudnya (sukatan) dan alihkanlah wabah penyakit (Madinah) ke daerah Juhfah.” (HR. Muslim)

إِنَّ إِبْرَاهِيمَ حَرَّمَ مَكَّةَ وَدَعَا لِأَهْلِهَا وَإِنِّي حَرَّمْتُ الْمَدِينَةَ كَمَا حَرَّمَ إِبْرَاهِيمُ مَكَّةَ وَإِنِّي دَعَوْتُ فِي صَاعِهَا وَمُدِّهَا بِمِثْلَيْ مَا دَعَا بِهِ إِبْرَاهِيمُ لِأَهْلِ مَكَّةَ

“Sesungguhnya Ibrahim telah mengharamkan Makkah dan mendoakan penduduknya dan sesungguhnya aku mengharamkan Madinah sebagaimana Ibrahim telah mengharamkan Makkah. Dan sesungguhnya aku juga berdoa agar setiap sha` dan mudnya diberkahi dua kali lipat dari yang didoakan Ibrahim untuk penduduk Makkah.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

Ketiga, Madinah terbebas dari penyakit thaun dan dajjal

Penyakit thaun adalah salah satu penyakit yang bisa memusnahkan sebuah penduduk negeri. Dan Rosulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam telah mendoakan kota madinah sebagai salah satu kota yang tidak akan terkena wabah penyakit tersebut. Sebagaimana yang dijelaskan dalam hadist berikut ini:

Diriwayatkan dari Abu Hurairah Radhiyallahu ‘Anhu, dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:

“Di pintu-pintu masuk Madinah terdapat para malaikat sehingga wabah tha’un dan Dajjal tidak bisa memasukinya.” (HR. Al Bukhari dan Muslim)

Dalam hadist diatas dijelaskan, bahwa kota madinah merupakan salah satu kota yang dilindungi oleh para malaikat sehingga penyakit thaun dan dajjal tidak akan memasuki kota ini. Dalam hadist lain dijelaskan, diriwayatkan dari Anas Radhiyallahu ‘Anhu, dari Nabi Muhammad Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

“Tidaklah setiap negri melainkan Dajjal akan menginjakkan kakinya di sana kecuali Makkah dan Madinah. Dan tidaklah setiap pintu masuk kota tersebut melainkan ada para malaikat yang berbaris menjaganya. Lalu Dajjal singgah di Sapha, kemudian Madinah berguncang tiga kali dan melemparkan setiap orang kafir dan munafik dari dalamnya menuju ke tempat Dajjal.” (HR. Bukhari  dan Muslim, redaksinya berasal dari Muslim)

Keempat, di hari kiamat kelak akan datang syafaat bagi mereka yang bertahan dari segala kesusahan selama di Madinah dan meninggal di dalamnya

Keutamaan lain yang Allah turunkan di kota Madinah, yaitu barang siapa yang meninggal di kota tersebut maka kelak di hari akhir akan datang syafaat kepadanya. Sebagaimana keterangan hadist berikut ini:

“Siapa yang mampu menutup usia di Madinah, maka hendaklah dia meninggal di sana, karena aku memberi Safa`at pada orang yang meninggal di sana.”( HR. Tirmizi dan Ahmad)

Dan begitu juga bagi mereka (penduduk Madinah) yang selalu sabar atas setiap kesukaran yang mereka alami, kelak hari akhir nanti mereka pun akan mendapat syafaat.

Diriwayatkan dari Sa’id bin Abu Sa’id dari Abu Sa’id maula Al-Mahri, dia datang kepada Abu Sa’id Al Khudri Radhiyallahu ‘Anhu di malam peristiwa Al-Harrah meminta nasehatnya untuk keluar dari Madinah, seraya mengeluhkan harga barang-barang yang tinggi dan ia mempunyai banyak tanggungan. Dia menyampaikan, sudah tidak mampu lagi menanggung cobaan dan kesulitan hidup Madinah. Lalu Abu Sa’id Al-Khudri Radhiyallahu ‘Anhu menjawab, “Celakalah engkau! Aku tidak merestuimu untuk melakukan hal itu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wassalam bersabda:

لَا يَصْبِرُ أَحَدٌ عَلَى لَأْوَائِهَا فَيَمُوتَ إِلَّا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِذَا كَانَ مُسْلِمًا

“Tidaklah seseorang yang tetap tinggal (di Madinah), bersabar dengan cobaan dan kesukarannya lalu meninggal di sana, melainkan aku akan memberi Safa’at dan menjadi saksinya pada hari kiamat, jika ia seorang muslim.”(HR. Muslim)

Dari Ibnu Umar Radhiyallahu ‘Anhuma, ia pernah mendengar Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda,

مَنْ صَبَرَ عَلَى لَأْوَائِهَا كُنْتُ لَهُ شَفِيعًا أَوْ شَهِيدًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ

“Siapa bersabar dengan  kesukaran di Madinah, maka aku akan memberi syafa’at atau menjadi saksi untuknya pada hari Kiamat.” (HR. Muslim)

Demikian penjelasan tentang keistimewaan serta keutamaan kota Madinah Al Munawwarah. Semoga kita semua, bisa diberi kesempatan oleh Allah SWT untuk berkunjung ke kota tersebut. Aamin…