Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel Informasi Penting

Ketika Melihat Ka’bah, Bacalah Doa Ini

Utama

Doa merupakan satu ritual yang banyak dilakukan oleh umat manusia. Termasuk umat muslim yang melaksanakan ibadah haji. Bagi orang yang belum pernah melaksanakan haji tentu ibadah yang satu ini memiliki kesan istimewa selama hidupnya. Tak ayal, ketika melihat prosesi haji yang ditayangkan ditelevisi, banyak yang ingin bisa mendapatkan kesempatan kedua, ketiga, bahkan seterusnya.

Memang, melihat ka’bah secara langsung dan tidak langsung, tentunya berbeda. Karena saat itu, kita tengah melihat bangunan secara langsung yang dijadikan sebagai patokan atau kiblat atau patokan arah untuk hal yang bersifat ibadah bagi umat Islam di seluruh dunia seperti shalat.

Saat melihat Bayt al ‘Atiq inilah, kita dianjurkan untuk berdoa kepada Allah. Sebagaimana disebutkan dalam kitab Tuhfatu al-Ahwadziy bi Syarh Jâmi’ at-Tirmidzi Imam Abdurrahman al-Mubârakfûri menyebutkan:

،روى الشافعي في مسنده عن ابن جريج أنّ النبيّ صلى الله عليه وسلم كان إذا رأى البيت رفع يديه
                                                                                     :وقال

اللَّهُمَّ زِدْ هَذَا الْبَيْتَ تَشْرِيفًا وَتَعْظِيمًا وَتَكْرِيمًا وَمَهَابَةً وَزِدْ مَنْ شَرّفَهُ وَكَرّمَهُ مِمَّنْ حَجَّهُ وَاعْتَمَرَهُ تَشْرِيفًا وَتَكْرِيمًا
وَتَعْظِيمًا وَبِرًّا

Imam Syafi’i meriwayatkan dalam musnadnya dari Ibnu Juraij, bahwa Nabi Muhammad saw. jika melihat Ka’bah, maka beliau mengangkat kedua tangannya dan berdoa:

Allahumma zid hâdzal baita tasyrîfan wa ta‘dzîman wa takrîman wa mahâbatan wa zid man syarafahu wa karamahu mim man hajjahu awi’tamarahu tasyrîfan wata’dzhîman watakîman wabirran.

Artinya:“Ya Allah, tambahkan lah kemuliaan, kehormatan, keagungan dan kehebatan pada Baitullah ini dan tambahkanlah pula pada orang-orang yang memuliakan, menghormati dan mengagungkannya diantara mereka yang berhaji atau yang berumroh padanya dengan kemuliaan, kehormatan, kebesaran dan kebaikan.”

Hadits yang berisi doa di atas dikomentari oleh al-Hafidz Ibnu Hajar dalam kitab al-Talkhis:

وهو معضل فيما بين ابن جريج والنبي صلى الله عليه وسلم

Ini termasuk riwayat mu’dhal (dua rawi atau lebih gugur, red) ntara Ibnu Juraij dan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. (Imam Abdurrahman al-Mubârakfûri, Tuhfatu al-Ahwadziy bi Syarh Jâmi’ at-Tirmidzi, Syirkah al-Quds, Kairo, cetakan kedua tahun 2013, juz 3, halaman 48)

Meski demikian, Imam Syafi’i mengatakan setelah meriwayatkan hadis diatas:

ليس في رفع اليدين عند رؤية البيت شيء فلا أكرهه ولا أستحبّه

“Mengangkat tangan ketika melihat Ka’bah bukanlah apa-apa, maka aku tidak memakruhkannya, juga tidak mensunnahkannya. (Imam Abdurrahman al-Mubârakfûri, Tuhfatu al-Ahwadziy bi Syarh Jâmi’ at-Tirmidzi, Syirkah al-Quds, Kairo, cetakan kedua tahun 2013, juz 3, halaman 48)

Maka dapat diambil kesimpulan dari perkataan imam Syafi’i bahwa mengangkat tangan saat melihat Ka’bah bukanlah suatu hal yang makruh, juga bukan sunnah. Demikian permasalahan mengangkat tangan ketika melihat Ka’bah. Adapun doa ketika melihat Ka’bah, dari kandungannya saja kita dapat melihat bahwa doa itu baik untuk kita amalkan.