Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel Kisah Inspriratif

Hanya 1 Tahun Menabung, Pasangan Muda Ini Bisa Daftar Haji

A Muslim pilgrim couple take a selfie on a rocky hill called the Mountain of Mercy, on the Plain of Arafat, near the holy city of Mecca, Saudi Arabia, Tuesday, Sept. 22, 2015. Mount Arafat, marked by a white pillar, is where Islam's Prophet Muhammad is believed to have delivered his last sermon to tens of thousands of followers some 1,400 years ago, calling on Muslims to unite. (AP Photo/Mosa'ab Elshamy)

Tekad kuat Arif dan Selly untuk mendaftar haji, tentu sangat layak untuk di contoh. Memiliki penghasilan yang tidak terlalu besar, ternyata tidak mengurangi niatnya untuk bisa menabung agar kelak bisa beribadah di tanah suci.

Bijak mengatakan, “Sedikit demi sedikit, lama-lama jadi bukit”. Tentu ini merupakan ungkapan yang relevan untuk menggambarkan kegigihan dan perjuangan pasangan yang menikah tahun 2015 ini. Siapa sangka, seorang karyawan biasa dengan tuntutan dan biaya hidup yang cukup tinggi di ibu kota, bisa mewujudkan mimpi untuk mendaftarkan haji. Bagaimana kisahnya? Berikut ini kutipan wawancara dari tim Infohaji:

Saya adalah anak pertama dengan keadaan ekonomi yang sebenarnya cukup memprihatinkan. Awal saya menikah, saya adalah pengangguran. Ayah saya tidak bekerja karena harus menemani ibu saya yang saat itu masih dalam keadaan sakit. Akhirnya, saya ikhtiar dan tak lama Allah jawab doa saya. Saya diterima bekerja di sebuah perusahaan yang bergerak dalam bidang pendidikan. Tahun 2015 bulan September tepatnya, saya diterima bekerja.

Saat itu dengan gaji Rp. 5 juta, saya harus targetkan kapan saya bisa mendaftar. Saya benar-benar membutuhkan bantuan istri untuk bisa mengelola dengan baik. Saya memberanikan diri untuk saving sebesar 60% dari pendapatan yang saya dapat. Sisanya, istrilah yang mengatur. Mulai uang untuk belanja bulanan, kirim orang tua, dll. Saya ingat bahwa saat itu saya mengatakan kepada istri, ”pokoknya harus cukup, ya!”.


Saya pikir, haji adalah prioritas saya saat itu. Mengingat kebutuhan hidup belum terlalu besar, anak belum ada, pun biaya sekolah untuk anak juga tidak. Meskipun dalam hati ingin membeli rumah-mobil, tapi hal itu kemudian saya urungkan. Sebab menurut saya, haji adalah ibadah yang membutuhkan waktu, dan saat ini kita harus menunggu sekira 15 tahun setelah mendaftar. Jadi jika saya mengutamakan mobil atau rumah, mungkin saya baru bisa mendaftar saat usia 32 tahun. Itu pun setelah cicilan mobil/rumah lunas. Sementara jika saya mendaftar usia 32 tahun, berarti saya akan berangkat haji di usia 47 tahun. Bagi saya ini terlalu tua. Akhirnya saya bilang kepada istri, ”kita harus daftar secepatnya.”

1

Gambar 1
Arif dan Selly


Sampailah istri saya berjuang keras agar uang tersebut bisa dikendalikan dan tidak banyak pengeluaran. Saya pun berjuang keras untuk menambah uang belanja. Kemudian sedikit demi sediki, waktu berlalu. Dan tabungan saya pun sudah mencapai Rp. 44 juta. Artinya tinggal sedikit lagi kita berdua bisa mendaftar.


Sayangnya, di bulan-bulan terakhir saya hendak mendaftar, saya terkena musibah. Sebuah handphone teman yang dititipkan kepada saya, ternyata pindah tangan. Saya kecopetan saat menjadi panitia dalam sebuah seminar. Saat itu, saya merasa sangat tertekan karena bukan hanya harus mengganti HP yang cukup mahal, tapi saya tepikir bahwa waktu saya pun harus diundur kembali untuk bisa ke tanah suci.


Saya teringat saat itu hampir satu minggu lamanya saya menangis histeris karena kejadian ini. Saya selalu terganggu waktu istirahat, karena terpikirkan akan keadaan ini. Akhirnya, istri saya memeluk erat dan mencoba menenangkan hati saya.


Saya mencoba menabahkan diri kembali seraya meminta kepada Allah agar tidak ditunda kembali. Saya pun merelakan uang tabungan saya berkurang untuk mengganti biaya pembelian HP.

2

Gambar 2
Sumber: http://1.bp.blogspot.com/


Dua bulan kemudian, uang pun terkumpul. Sebagai pasangan muda, yang melihat uang 50 juta rasannya gatel sekali. Sebab saya merasa dengan uang tersebut saya bisa gunakan untuk DP mobil, DP rumah, ganti HP, atau beli laptop. Dan jujur saat itu saya pun tergoda agar tidak daftar haji. Tapi saya ingat kembali, bahwa uang ini adalah rezeki dari Allah yang diberikan kepada saya untuk di jalan Allah. Saya pun sempat berpikir bahwa mobil, rumah, hp, adalah satu benda yang kita bisa beli kapan pun. Tapi haji, adalah satu kesempatan yang belum tentu orang kaya pun bisa mendapatkannya. Jadi, saya bulatkan tekad untuk haji terlebih dahulu.


Akhirnya, saya minta istri saya untuk bergegas mengurus berkas-berkas dan mengatur waktu untuk datang ke Departemen Agama terdekat. Dengan bangganya saya dan istri memiliki berkas daftar haji. Saya kemudian terjadwal dengan keberangkatan di tahun 2031 dengan usia 43 tahun. Usia yang cukup menurut saya. Tidak terlalu tua, dan insya Allah stamina pun masih cukup terjaga. Pun demikian untuk anak saya mungkin masih remaja..


Setelah selesai dan terdaftar, ternyata saya merasa perjalanan untuk menabung di jalan Allah itu mudah. Rezeki pun terasa lebih lancar. Bahkan bukan hanya itu saja. Sebab saya mendahulukan keinginan untuk ibadah haji (akhirat), maka urusan dunia pun Allah yang selesaikan. Sekarang, di usia 3 tahun pernikahan, saya sudah memiliki 2 rumah di kawasan Tangerang yang justru tidak saya beli secara cicil. Tapi cash. Intinya, jangan segen deh membelanjakan harta untuk jalan Allah. Sebab nanti Allah yang ganti uang belanja untuk kita lebih besar.”

Bagi Arif, biaya haji yang tidak sedikit serta mencapai puluhan juta rupiah ini, tentu saja sesuatu yang mahal. Oleh sebab itu, ia juga menghimbau anak muda untuk mengutamakan haji dan merencanakannya jauh-jauh hari. Agar saat panggilan ke tanah suci tiba, usia pun masih tergolong muda.