Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel Informasi Penting

AWAS!!! Jangan Coba Menghajikan Orang Tua Kalau Kamu Belum Berhaji. Ini Alasannya

utama

INFOHAJI.co.id – Sahabat InfoHaji, kamu tentu tahu bahwa haji adalah rukun Islam yang diwajibkan bila memiliki kemampuan. Ibadah ini hampir diimpikan setiap orang Islam di belahan dunia manapun. Pastinya termasuk orang tua kamu.

Bahkan, sebagai wujud bakti seorang anak, terkadang kamu memiliki keinginan untuk menghajikan kedua orang tua. Tentu merupakan sebuah amal kebajikan yang luar biasa. Sebab, sebagai anak berbuat kebajikan kepada kedua orang tua atau yang dikenal dengan istilah birrul walidain adalah sebuah kewajiban tak tersangkal. Sampai di titik ini sebenarnya tidak ada masalah berarti.

Dana Haji Terbatas, Siapa Yang Berhak?

Nah, di sini baru kemudian muncul masalah ketika kamu sebagai anak memiliki sejumlah dana tapi kamu sendiri belum pernah berhaji, sementara di lain sisi kamu juga berkeinginan untuk menghajikan kedua orang tua.

Sebenarnya sebagai anak kamu tentu merasa baiknya mendahulukan orang tua. Apalagi keduanya sudah sepuh dan belum berhaji. Belum lagi daftar tunggu haji yang sangat lama, membuat kamu khawatir jika mereka tutup usia. Kamu pun akan mereasa kecewa jika mereka tiada, sementara kamu belum sempat menyenangkan orang tua (menghajikan orang tua).

Alasan-alasan ini tentu tampak logis dan bisa dipahami. Tetapi apakah alasan-alasan ini benar?

Untuk menjawab persoalan ini kamu perlu mengetahui salah satu kaidah fikih yang termaktub dalam kitab Al-Asybah wan Nazhair.

اَلْإِيثَارُ فِي الْقُرْبِ مَكْرُوهٌ

Artinya: “Mendahulukan pihak lain dalam persoalan ibadah adalah makruh”.

Sampai di sini tentu kamu bisa melihat bahwa menghajikan orang tua sebelum kamu sendiri berhaji dihukumi makruh. Nah, aktivitas yang berstatus makruh itu artinya dilarang namun tidak terdapat konsekuensi (dosa) bila kamu melakukannya.

“Lalu bagaimana, bukankah mendahulukan orang lain itu boleh dan beroleh pahala?”

Nah, itu persoalan lain. Jadi yang dimaksud mendahulukan atau lebih mementing orang lain (apalagi mementingkan orang tua) daripada diri sendiri itu boleh dan dibenarkan dalam agama. Hanya saja kaitanya dengan non-ibadah.

وَفِي غَيْرِهَا مَحْبُوبٌ قَالَ تَعَالَى وَيُؤْثِرُونَ عَلَى أَنْفُسِهِمْ وَلَوْ كَانَ بِهِمْ خَصَاصَةٌ

Artinya, “Dan mendahulukan orang lain dalam persoalan selain ibadah itu sangat baik. Allah SWT berfirman, ‘Dan mereka mengutamakan (kaum Muhajirin) atas dirinya sendiri, padahal mereka juga memerlukan,’ (Surat Al-Hasyr ayat 9),”.

Nah, di sini Syekh Izzuddin Abdus Salam (maka Sulthanul Ulama`) memandang bahwa mendahulukan orang lain dari dirinya sendiri dalam soal ibadah tidak diperbolehkan.

قَالَ الشَّيْخُ عِزُّ الدِّينِ لَا إِيثَارَ فْي الْقُرُبَاتِ فَلَا إِيثَارَ بِمَاءِ الطَّهَارَةِ وَلَا بِسَتْرِ الْعَوْرَةِ وَلَا بِالصَّفِّ الْأَوَّلِ لِأَنَّ الْغَرْضَ بِالْعِبَادَاتِ التَّعْظِيمُ وَالْإِجْلَالُ فَمَنْ آثَرَ بِهِ فَقَدْ تَرَكَ إِجْلَالَ الْإِلَهِ وَتَعْظِيمَهُ

Artinya, “Syekh Izzuddin berkata, tidak boleh mengutamakan orang lain sementara dirinya membutuhkan dalam hal ibadah. Karenanya, tidak boleh mengutamakan orang lain dalam hal air untuk bersuci, menutup aurat, dan shaf pertama dalam shalat jamaah. Sebab, esensi dari ibadah adalah mengagungkan Allah SWT. Oleh sebab itu barangsiapa yang lebih mengutamana orang lain ketimbang dirinya dalam soal ibadah, maka ia telah mengabaikan pengagungan kepada-Nya,” (Lihat Jalaluddin As-Suyuthi, Al-Asybah wan Nazha`ir, halaman 116).

Jika penjelasan ini ditarik dalam konteks pertanyaan di atas, maka jawabannya adalah tindakan kamu sebagai seorang anak yang menghajikan kedua orang tua sementara kamu sendiri belum pernah berhaji adalah boleh, tetapi makruh.

Nah, itulah penjelasan tentang menghajikan orang tua yang dihukumi makruh bila kamu sendiri belum berhaji. Karena itu, sebaiknya tidak perlu dilakukan. Yang paling baik adalah berhaji sendiri baru kemudian menghajikan kedua orang tuanya.