Ikuti kami

Facebook
Instagram
Instagram
Artikel Informasi Penting

ADUH! Haid Saat Sedang Umroh, Apa Yang Harus Dilakukan?

Utama 01

INFOHAJI.co.id – Sahabat InfoHaji, haid merupakan siklus alamiah yang dialami oleh setiap perempuan. Hanya saja setiap perempuan mengalami masa yang berbeda. Ada yang 3-4 hari, tetapi ada juga yang mengalami hingga 5-7 hari.

Pada masa ini perempuan dibebas tugaskan dari melaksanakan ibadah seperti shalat, puasa, dan membaca alQuran. Lalu bagaimana ketika mengalami haid saat tengah melakukan ibadah umrah? Apakah ibadah umrah dapat terus dilakukan?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, kamu perlu memahami apa itu umroh terlebih dahulu. Umroh adalah rangkaian ibadah, seperti thawaf, sai dan tahallul. Orang yang melakukan umroh harus dalam keadaan ihram. Pertama kali memakai ihram harus diluar miqat. Jadi sebelum masuk ke mekah, anda harus sudah memakai ihram terlebih dahulu. lalu bagaimana kajian islam tentang wanita haid dalam melakukan umroh?

Sebenarnya wanita yang dalam keadaan haid, diperbolehkan melakukan ihram, karena ihram tidak harus suci. Dari hadats kecil maupun hadast besar. Hanya ibadah-ibadah tertentu saja yang tidak diperbolehkan.

حَدَّثَنَا أَبُو غَسَّانَ، مُحَمَّدُ بْنُ عَمْرٍو حَدَّثَنَا جَرِيرُ بْنُ عَبْدِ الْحَمِيدِ، عَنْ يَحْيَى بْنِ، سَعِيدٍ عَنْ جَعْفَرِ بْنِ مُحَمَّدٍ، عَنْ أَبِيهِ، عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ، – رضى الله عنهما – فِي حَدِيثِ أَسْمَاءَ بِنْتِ عُمَيْسٍ حِينَ نُفِسَتْ بِذِي الْحُلَيْفَةِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم أَمَرَ أَبَا بَكْرٍ – رضى الله عنه – فَأَمَرَهَا أَنْ تَغْتَسِلَ وَتُهِلَّ ‏.‏

“Bahwa ketika rasulullah shallAllahu alaihi wa sallam berangkat haji sesampainya di dhulhulaifah (bir ali – miqat penduduk madinah), asma bintu umais (istri abu bakr) melahirkan anaknya, kemudian Rasulullah shallAllahu alaihi wa sallam memerintahkan abu bakar untuk menyuruh istrinya mandi dan berniat ihram.” HR Muslim 1210 (sahih).

Dari kajian islam diatas, kita tahu bahwa asma yang sedang nifas pun masih diperbolehkan untuk ihram.

Nah, yang perlu dilakukan adalah ketika wanita haid sampai di miqat, hendaknya mandi dan istisfar atau menggunakan pembalut lebih rapat, sehingga dipastikan tidak ada darah yang merembes keluar hingga ke celana. Setelah itu baru memulai ihram.

Dalil lain tentang bolehnya ihram dalam kondisi haid adalah peristiwa yang dialami A’isyah radhiyallahu ‘anha. Beliau menceritakan perjalanan hajinya bersama Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Kami berangkat dengan niat haji. Ketika sampai di daerah Saraf, aku mengalami haid. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam menemuiku sedang nangis.”

“Kamu kenapa? Apa kamu haid?” tanya Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam.

“Benar,” jawab A’isyah.

Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

Haid adalah kondisi yang Allah takdirkan untuk putri Adam. Lakukan seperti yang dilakukan jamaah haji, hanya saja jangan melakukan Thawaf di Ka’bah. (HR. Bukhari 294 & Muslim 2976).

Dalam riwayat Muslim terdapat tambahan,

A’isyah pun melakukannya, beliau melaksanakan semua aktivitas orang haji. Hingga ketika beliau telah suci, beliau Thawaf di Ka’bah dan Sa’i antara Shafa dan Marwah. (HR. Muslim 2996).

Ini menunjukkan bahwa wanita yang mengalami haid ketika umrah dan belum melakukan Thawaf, maka dia boleh melakukan kegiatan apapun, selain Thawaf, Sa’i dan masuk Masjidil Haram. Dia menunggu sampai suci dan mandi haid. Setelah itu, baru dia Thawaf dan Sa’i.